Kekalahan Telak di Kandang: Inggris Tumbang 2-1 dari Selandia Baru, Ben Stokes Pensiun Mendadak
Baca dalam 60 detik
- Selandia Baru menaklukkan Inggris dengan skor 160-run di Trent Bridge, memastikan kemenangan seri 2-1, sekaligus menjadi kekalahan kandang pertama Inggris dalam seri tiga tes sejak 2011.
- Kapten Inggris Ben Stokes mengumumkan pensiun di tengah pertandingan, menambah kekacauan tim yang telah kehilangan tujuh dari sembilan tes terakhir.
- Tanpa sejumlah pemain inti yang cedera, Selandia Baru tampil solid dengan bowling andal dari Smith dan Foulkes yang masing-masing mengambil enam wicket.

Kekalahan telak 160-run dari Selandia Baru di Trent Bridge, Nottingham, pada Sabtu (29/6) tidak hanya membuat Inggris kehilangan seri 2-1, tetapi juga menandai akhir karier internasional kapten Ben Stokes yang mengejutkan dengan pengumuman pensiun di tengah pertandingan. Ini adalah kekalahan kandang pertama Inggris dalam seri tiga tes atau lebih sejak 2011, sekaligus pukulan berat bagi skuad yang tengah berusaha bangkit setelah kekalahan Ashes.
Pelatih Inggris Brendon McCullum mengakui timnya kalah dari lawan yang lebih gigih. "Kami bermain cukup baik di sebagian besar tes ini, tetapi Selandia Baru tampil tanpa henti. Mereka melakukan hal-hal sederhana dengan sangat baik dalam waktu lama dan selalu memanfaatkan momen krusial," ujarnya. Kekalahan ini memperpanjang tren buruk Inggris yang kini telah kehilangan tujuh dari sembilan pertandingan tes terakhir.
Harapan tipis Inggris untuk mengejar target 212 run sirna di awal hari keempat. Dalam empat over pertama, mereka kehilangan dua wicket: Emilio Gay (10) yang ditangkap kiper, dan Joe Root (18) yang terkena run out brilian Henry Nicholls. Jamie Smith, yang kembali setelah cuti melahirkan, mencoba bertahan bersama Gus Atkinson dengan membangun kemitraan 75 run untuk wicket ketujuh. Namun, Atkinson terjebak lbw oleh Mitchell Santner sebelum makan siang, dan setelah Jofra Archer tertangkap, run out lain terjadi—Santner kembali menjadi eksekutor dengan lemparan langsung yang mengenai Josh Tongue.
Smith menjadi pemain terakhir yang pulang, tertangkap di long-on dari Santner setelah mencetak 60 dari 91 bola. Inggris habis dengan skor 212 di hadapan tribun yang setengah kosong. Suasana muram ini kontras dengan awal seri ketika Inggris menang di Lord's. Namun, kontroversi yang melibatkan Stokes dan Atkinson—yang dikeluarkan dari tes kedua karena melanggar jam malam di klub malam London—mengubah arah. Meskipun mereka dibebaskan dari tuduhan serius, Selandia Baru telah menyamakan kedudukan dan mengambil momentum.
Selandia Baru sendiri datang dengan kekuatan pukulan. Tanpa Matt Henry, Glenn Phillips, dan Kyle Jamieson yang cedera atau diistirahatkan, mereka kehilangan Blair Tickner karena gegar otak pada hari kedua dan Will O'Rourke karena cedera hamstring. Namun, pemain pengganti Zak Foulkes, yang juga bermain dengan hamstring sakit, tampil gemilang bersama Nathan Smith—masing-masing mengemas enam wicket. Kapten Selandia Baru Tom Latham memuji ketangguhan timnya: "Banyak tim Selandia Baru sebelumnya tidak berada di posisi ini. Saya sangat bangga. Kami menghadapi banyak kesulitan, tetapi semua pemain tampil saat dibutuhkan."
Bagi Indonesia, kekalahan Inggris ini menjadi pengingat bahwa krisis di tim besar bisa terjadi kapan saja. Bagi penggemar kriket Tanah Air yang mengikuti perkembangan internasional, dinamika ini menunjukkan betapa pentingnya kedalaman skuad dan ketahanan mental. Inggris kini harus bersiap menghadapi Pakistan dalam seri tiga tes bulan depan, sementara Selandia Baru membuktikan bahwa mereka tetap menjadi kekuatan yang patut diperhitungkan, bahkan tanpa pemain bintang. Pertanyaan besarnya: dapatkah Inggris bangkit dari keterpurukan ini, atau justru akan semakin tenggelam?



