Hamilton Peringatkan Silverstone Akan Terasa 'Sangat Berbeda' Akibat Regulasi Mesin Baru F1
Baca dalam 60 detik
- Lewis Hamilton menyebut sirkuit Silverstone akan terasa sangat berbeda musim ini karena mobil-mobil F1 2025 kekurangan daya di tikungan kecepatan tinggi akibat pembatasan pemulihan energi.
- Pembalap Ferrari itu memprediksi defisit performa timnya terhadap Mercedes bisa melebar dua kali lipat di GP Inggris karena trek yang minim titik pengereman.
- FIA telah memutuskan untuk mengubah rasio daya mesin pembakaran dan listrik dalam dua musim ke depan untuk mengatasi masalah ini, namun lima tim menolak usulan penyesuaian mode lurus.

Lewis Hamilton, peraih rekor sembilan kemenangan di Grand Prix Inggris, memperingatkan bahwa sirkuit Silverstone musim ini akan menjadi tantangan yang sama sekali berbeda bagi para pembalap. Perubahan regulasi mesin yang diterapkan pada mobil Formula 1 2025 membuat lintasan legendaris itu kehilangan sebagian besar karakternya yang mengandalkan kecepatan tinggi di tikungan ikonik seperti Copse dan Becketts.
Menurut Hamilton, mobil-mobil anyar dengan rasio tenaga listrik dan pembakaran internal hampir 50:50 akan kesulitan mempertahankan daya di sepanjang lap. "Jika Anda lihat grafik kecepatan, kami mulai kehilangan daya saat memasuki Copse. Biasanya mesin meraung dan Anda bertahan sekuat tenaga, tapi tahun ini kami mungkin harus turun gigi dari ketujuh ke keenam untuk menjaga putaran mesin," ujar pembalap asal Inggris itu dalam konferensi pers resmi.
Fenomena ini terjadi karena sirkuit Silverstone memiliki sedikit titik pengereman, sehingga sistem pemulihan energi (ERS) tidak dapat mengisi ulang baterai secara optimal. Akibatnya, di beberapa bagian trek, mobil hanya mengandalkan mesin pembakaran internal dengan tenaga sekitar 400 kW, sementara motor listrik 350 kW tidak dapat berkontribusi penuh. Hamilton menambahkan bahwa bagian terbaik lintasan—Copse, Becketts, dan Stowe—justru menjadi titik di mana tenaga mobil turun drastis.
Pembalap Aston Martin, Fernando Alonso, bahkan menyebut kondisi ini membuat mobil F1 musim ini lebih lemah dibandingkan mobil Formula 2 saat mode tanpa daya. "Ketika pemulihan energi dipotong, kami kehilangan tenaga secara signifikan. Ini tantangan nyata," katanya. Namun, George Russell dari Mercedes justru melihat sisi positif. Menurutnya, trek yang kekurangan energi seperti Melbourne justru menghasilkan balapan yang lebih menarik. "Kecuali Anda melihat onboard, 95% dari 600.000 penonton mungkin tidak akan menyadari perbedaannya. Tapi dari suara mesin, memang tidak enak didengar," ujar Russell.
Masalah ini diperparah oleh keputusan FIA yang tidak mengizinkan penggunaan mode lurus (straight-line mode) pada lintasan dari Tikungan 1 ke Tikungan 3 serta antara Copse dan Becketts. Keputusan yang diambil demi alasan keamanan itu sempat akan dievaluasi ulang dalam pertemuan Kamis pagi, namun lima tim memilih menolak. Russell mengaku heran karena tim Mercedes justru mendukung perubahan tersebut meskipun mereka diuntungkan dengan mode lurus. Beberapa tim dilaporkan khawatir mode tersebut dapat menimbulkan risiko keselamatan di titik-titik tertentu.
F1 telah mengumumkan akan mengubah rasio daya antara mesin pembakaran dan listrik dalam dua musim mendatang untuk mengatasi masalah ini. Namun, untuk Grand Prix Inggris akhir pekan ini, para pembalap harus beradaptasi dengan keterbatasan tenaga yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagi penggemar di Indonesia, momen ini menjadi pengingat betapa cepatnya perubahan teknologi dalam olahraga bermotor—dan bagaimana regulasi teknis dapat mengubah pengalaman balapan secara fundamental. Akankah Silverstone tetap menjadi salah satu sirkuit paling menantang di kalender F1, atau justru kehilangan pesonanya karena keterbatasan energi? Jawabannya akan terlihat saat lampu merah padam pada hari Minggu.



