Taylor Fritz Lolos ke Babak Ketiga Wimbledon: Langkah Mantap Menuju Gelar Perdana Grand Slam
Baca dalam 60 detik
- Unggulan keenam Taylor Fritz mengalahkan Patrick Kypson 6-2, 6-2, 7-5 untuk melaju ke putaran ketiga Wimbledon.
- Fritz, semifinalis tahun lalu, menunjukkan dominasi di dua set awal sebelum menghadapi perlawanan sengit di set ketiga.
- Kemenangan ini memperkuat posisinya sebagai kandidat gelar Grand Slam pertama, dengan pertandingan selanjutnya melawan Lorenzo Sonego.

Taylor Fritz, unggulan keenam asal Amerika Serikat, memastikan tempatnya di babak ketiga Wimbledon setelah menundukkan rekan senegaranya Patrick Kypson dengan skor 6-2, 6-2, 7-5 di Lapangan Dua, Kamis (2/7). Kemenangan ini melanjutkan performa impresifnya sejak menjadi semifinalis tahun lalu dan memperkuat statusnya sebagai salah satu kandidat kuat perebutan gelar Grand Slam perdana.
Fritz, yang tahun lalu mencatatkan hasil terbaiknya di All England Club, tampil dominan sejak awal. Ia hanya kehilangan empat game dalam dua set pertama, menunjukkan kesenjangan kelas yang jelas antara dirinya dan Kypson yang berada di peringkat 113 dunia. Namun, set ketiga menjadi ujian tersendiri saat Kypson bangkit dan memaksa Fritz bekerja keras untuk menutup pertandingan.
Setelah kehilangan keunggulan 4-2 dan membiarkan Kypson menyamakan kedudukan 4-4, Fritz meningkatkan intensitas permainannya. Ia merebut break krusial di game ke-12 untuk memastikan kemenangan straight-set dalam waktu dua jam 15 menit. "Rasanya luar biasa, terutama saat Anda menjadi pemain pertama yang bertanding hari ini," ujar Fritz usai pertandingan. "Saya punya banyak waktu sisa hari ini. Apalagi dengan perasaan di set ketiga, Anda merasa mengendalikan permainan dan memiliki peluang break."
Selain permainan tenisnya yang nyaris sempurna, Fritz juga mencuri perhatian dengan aksi melepas jaket dan celana panjangnya di lapangan. Momen tersebut disambut sorak sorai penonton. Fritz mengaku terinspirasi oleh Frances Tiafoe yang melakukan hal serupa. "Sebenarnya lebih mudah melakukannya dengan cepat. Saya tahu akan menjadi perhatian, tapi saya tidak terlalu menginginkannya," katanya. Ia juga menyinggung tren fesyen di tenis, di mana pemain wanita seperti Naomi Osaka lebih dahulu mempopulerkan pakaian khas saat memasuki lapangan.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Fritz menjadi tontonan menarik karena ia mewakili generasi baru petenis Amerika yang mulai bersaing di panggung Grand Slam. Dengan absennya Novak Djokovic karena cedera, persaingan di sektor putra semakin terbuka. Fritz, yang pernah menjadi juara ATP Masters 1000 Indian Wells, memiliki peluang besar untuk melangkah jauh. Namun, ia harus mewaspadai lawan-lawannya seperti Jannik Sinner, Carlos Alcaraz, dan Alexander Zverev yang juga dalam performa terbaik.
Langkah Fritz selanjutnya adalah menghadapi Lorenzo Sonego, petenis Italia yang mengalahkan Gabriel Diallo di babak kedua. Sonego dikenal sebagai pemain agresif dengan servis kuat, namun Fritz diunggulkan berdasarkan peringkat dan pengalaman di lapangan rumput. Jika mampu mempertahankan konsistensi, bukan tidak mungkin Fritz akan kembali menembus semifinal atau bahkan lebih. Pertanyaannya, akankah ia mampu mengatasi tekanan dan mewujudkan ambisi menjadi juara Grand Slam pertama Amerika sejak Andy Roddick pada 2003?



