Fenomena 'Canceled Cooking' Mengubah Dapur Generasi Muda Jepang
Baca dalam 60 detik
- Survei Kewpie Corp. pada 2025 mengungkap bahwa 14,6% perempuan Jepang di bawah 30 tahun tidak menggunakan pisau saat memasak, menandai pergeseran menuju efisiensi.
- Konsep 'homemade' meluas: makanan siap saji yang diberi satu langkah tambahan kini dianggap buatan sendiri, mengurangi rasa bersih karena 'memotong jalan pintas'.
- Tren ini didorong oleh meningkatnya rumah tangga dengan dua pencari nafkah dan perubahan nilai yang mengutamakan keseimbangan antara kepuasan dan efisiensi.

Gaya memasak yang memangkas penggunaan alat dapur, yang dikenal sebagai canceled cooking, kian populer di kalangan generasi muda Jepang. Temuan ini terungkap dari survei terhadap 1.500 perempuan menikah berusia 20–74 tahun yang dilakukan produsen makanan Kewpie Corp. pada Oktober 2025 dan dirilis Juni lalu.
Fenomena ini mencerminkan adaptasi terhadap gaya hidup modern, terutama di tengah meningkatnya jumlah rumah tangga dengan dua pencari nafkah. Alih-alih dianggap sebagai bentuk kemalasan, canceled cooking justru dipandang sebagai penyesuaian positif agar aktivitas memasak tetap bisa dinikmati tanpa menguras waktu dan tenaga.
Survei menunjukkan bahwa penggunaan pisau—alat dapur paling dasar—mengalami penurunan signifikan pada kelompok usia muda. Secara keseluruhan, 89,3% responden mengaku masih menggunakan pisau dalam sebulan terakhir. Namun, angka itu merosot menjadi 68,3% pada kelompok usia 29 tahun ke bawah, sementara pada responden berusia 62 tahun ke atas mencapai 94,3%. Rata-rata jumlah alat dapur yang digunakan pun berbeda: 10,5 secara umum, tetapi hanya 6,2 pada kelompok termuda. Lebih mencengangkan, 14,6% dari kelompok usia di bawah 30 tahun mempraktikkan knife-cancel cooking, yaitu memasak tanpa pisau sama sekali.
Perubahan ini juga menggeser definisi homemade atau masakan rumahan. Dibandingkan survei serupa pada 2013 dan 2021, semakin banyak responden yang menganggap makanan siap saji yang diberi satu langkah tambahan sebagai masakan rumahan. Contohnya, membeli patty hamburger mentah lalu menggorengnya sendiri, atau membuat sup miso dengan melarutkan pasta miso ke dalam bahan sup instan. Rasa bersalah karena dianggap cutting corners pun semakin memudar.
Kewpie menilai bahwa era mengejar kesempurnaan dalam pekerjaan rumah tangga telah bergeser ke nilai-nilai yang menekankan keseimbangan antara efisiensi dan kepuasan. Meskipun anggapan bahwa masakan rumahan adalah ekspresi kasih sayang masih bertahan, generasi muda menunjukkan fleksibilitas yang lebih besar. Perusahaan itu bahkan telah merilis resep knife-cancel di situsnya, seperti chicken nugget dan gyoza yang bisa dibuat tanpa pisau.
“Kami melihat ini bukan sekadar memotong jalan pintas, melainkan penyesuaian positif untuk terus menikmati memasak,” ujar perwakilan Kewpie.
Fenomena serupa mungkin juga terjadi di Indonesia, di mana gaya hidup urban yang serba cepat mendorong praktik memasak minimalis. Produk-produk makanan instan dan bumbu siap pakai sudah lazim digunakan, namun stigma negatif terhadap 'masakan instan' masih cukup kuat. Tren canceled cooking di Jepang bisa menjadi cermin bahwa efisiensi dapur tidak selalu mengurangi kualitas atau makna kebersamaan keluarga. Pertanyaannya, akankah generasi muda Indonesia juga mengadopsi pendekatan serupa tanpa rasa bersalah?



