Wall Street Menguat, Eropa Tertekan: Sinyal Inflasi AS Melunak Dongkrak Pasar Global
Baca dalam 60 detik
- Pernyataan dovish Ketua Fed Kevin Warsh soal inflasi yang mereda memicu reli di Wall Street, sementara bursa Eropa justru tertekan oleh aksi jual saham teknologi dan energi.
- Bursa Asia terbelah: Nikkei dan ASX melemah imbas koreksi saham chip, namun Hang Seng melonjak berkat aksi borong saham platform internet China.
- Pasar Indonesia berpotensi terimbuh sentimen positif dari penguatan emas dan platinum, meski harga minyak mentah yang turun membayangi sektor energi domestik.

Pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang mengindikasikan risiko inflasi di Amerika Serikat mulai mereda dalam beberapa pekan terakhir menjadi katalis utama penguatan Wall Street, sementara bursa Eropa justru bergerak berlawanan arah akibat tekanan di sektor teknologi dan energi. Kondisi ini menandai pergeseran ekspektasi pelaku pasar terhadap laju pengetatan moneter di negara dengan perekonomian terbesar dunia tersebut.
Indeks NASDAQ ditutup melemah 0,66 persen, sedangkan S&P 500 dan Dow Jones masing-masing turun 0,22 persen dan 0,03 persen pada sesi sebelumnya. Pelemahan tersebut dipimpin oleh saham-saham produsen chip yang menjadi korban aksi ambil untung setelah reli panjang. Namun, sentimen berbalik positif setelah komentar Warsh yang dinilai dovish oleh pasar. Menurut analis First National Bank, pernyataan itu memberikan kelegaan bagi investor yang sebelumnya khawatir terhadap kenaikan suku bunga agresif.
Di Eropa, indeks Euro Stoxx 50 terperosok 0,72 persen dan FTSE 100 turun 0,18 persen. Keduanya tertekan oleh koreksi saham semikonduktor dan energi, meskipun data inflasi Zona Euro yang lebih rendah dari perkiraan sempat meredakan spekulasi kenaikan suku bunga oleh Bank Sentral Eropa. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar Eropa masih rentan terhadap gejolak sektor teknologi global.
Bursa Asia menunjukkan pergerakan beragam. Nikkei 225 tercatat ambles 1,92 persen, sementara ASX 200 turun tipis 0,07 persen. Pelemahan di Jepang dan Australia dipicu oleh koreksi saham teknologi global serta kehati-hatian menjelang rilis data perdagangan. Australia secara mengejutkan mencatat defisit perdagangan sebesar AUD3,02 miliar pada Mei 2026, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan surplus AUD2,2 miliar. Sebaliknya, Hang Seng Index justru melesat 1,19 persen berkat aksi beli murah saham-saham platform internet China, meskipun tekanan jual di sektor teknologi masih berlanjut di kawasan lain.
Bursa efek Indonesia diperkirakan akan dibuka dengan hati-hati menyusul mayoritas bursa Asia yang berada di zona merah dan pergerakan futures global yang bercampur. Indeks S&P/ASX 300 Metals & Mining yang hampir datar mengindikasikan tidak ada dorongan kuat bagi saham-saham sumber daya. Namun, penguatan harga emas dan platinum diperkirakan akan menopang kinerja emiten tambang logam mulia dan logam mulia grup platinum, yang dapat mengimbangi tekanan dari pelemahan harga minyak mentah Brent.
Di bursa Afrika Selatan, indeks All Share ditutup turun 0,64 persen ke level 109.613 poin, dengan sektor keuangan menjadi pemberat utama. Saham ABSA ambles 4,35 persen dan Standard Bank merosot 2,71 persen. Sektor industri juga melemah 0,68 persen karena saham teknologi dan konsumen berkapitalisasi besar tertekan. Sebaliknya, sektor sumber daya justru menguat 0,84 persen, didorong oleh indeks logam mulia dan pertambangan yang naik 1,56 persen. Kenaikan saham Tencent sebesar 1,54 persen memberikan sentimen positif bagi Naspers dan Prosus, dua perusahaan Afrika Selatan yang memiliki kepemilikan signifikan di raksasa teknologi China tersebut.
Ke depan, pasar akan terus mencermati pernyataan pejabat bank sentral utama serta data inflasi AS berikutnya untuk mengonfirmasi apakah tren pelonggaran risiko inflasi benar-benar berkelanjutan. Pertanyaan yang mengemuka: akankah reli Wall Street mampu bertahan di tengah tekanan sektor teknologi global, atau justru koreksi lebih dalam akan terjadi?



