Saham ANTM Melesat 5,75%: Emas dan Smelter Jadi Motor Penggerak
Baca dalam 60 detik
- Saham ANTM ditutup menguat 5,75% ke Rp2.760 pada Kamis (2/7/2026), didorong kenaikan harga emas dan operasional pabrik smelter.
- Kinerja keuangan 2025 melesat: laba bersih melonjak 106% menjadi Rp7,92 triliun, didukung penjualan emas ritel yang naik 15%.
- Analis merekomendasikan akumulasi beli dengan target harga Rp3.430, meski ada risiko kebijakan royalti dan windfall tax.

Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berhasil membalikkan tren pelemahan dan ditutup melesat 5,75% ke posisi Rp2.760 pada perdagangan Kamis (2/7/2026), setelah sempat tertekan ke level Rp2.590 beberapa hari sebelumnya. Lonjakan ini terjadi di tengah sentimen positif dari harga emas global yang masih bertahan di atas US$4.000 per troy ons serta mulai beroperasinya pabrik Smelter Grade Alumina (SGA) milik perseroan.
Sepanjang sesi perdagangan, saham emiten tambang pelat merah ini bergerak dalam rentang Rp2.640 hingga Rp2.760, dengan total transaksi mencapai 32.415 kali dan volume 107,2 juta saham senilai Rp292,8 miliar. Pergerakan ini mengindikasikan minat beli yang kuat dari investor, terutama setelah rilis kinerja keuangan 2025 yang impresif.
Pada tahun buku 2025, ANTM membukukan laba bersih sebesar Rp7,92 triliun, melonjak 106% dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp3,85 triliun. Pendapatan perseroan juga naik 22% menjadi Rp84,64 triliun, ditopang oleh penjualan emas yang mencapai Rp66,47 triliun atau tumbuh 15% secara tahunan. Kinerja ini menunjukkan bahwa segmen emas tetap menjadi tulang punggung bisnis ANTM di tengah volatilitas harga komoditas.
Senior Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai bahwa kenaikan harga emas global yang masih kuat sebagai aset safe haven, ditambah eskalasi geopolitik di Timur Tengah, menjadi katalis positif bagi ANTM. Selain itu, mulai beroperasinya pabrik SGA memperkuat segmen bauksit dan alumina, sementara kelancaran kuota produksi (RKAB) dan pemulihan rantai pasok domestik turut mendukung prospek perseroan.
Namun, Nafan juga mengingatkan adanya risiko dari wacana kebijakan domestik, seperti penyesuaian tarif royalti dan penerapan windfall tax untuk sektor pertambangan. Jika kebijakan tersebut diimplementasikan, margin keuntungan ANTM berpotensi tergerus. Meski demikian, ia tetap merekomendasikan akumulasi beli dengan target harga Rp3.430, didorong oleh volume penjualan emas ritel yang stabil di atas target manajemen sebesar 43-45 ton pada 2026.
Bagi investor di Indonesia, pergerakan saham ANTM ini menjadi sinyal bahwa sektor tambang, khususnya emas, masih memiliki daya tarik di tengah ketidakpastian global. Namun, kewaspadaan terhadap perubahan regulasi domestik tetap diperlukan, mengingat kontribusi royalti dan pajak terhadap pendapatan negara bisa memengaruhi kebijakan fiskal ke depan.
Ke depan, pasar akan mencermati realisasi target penjualan emas ANTM pada semester II 2026 serta perkembangan harga emas global yang saat ini masih berada dalam tren bearish jangka pendek. Apakah ANTM mampu mempertahankan momentum dan menembus level psikologis Rp3.000? Jawabannya akan sangat bergantung pada konsistensi kinerja operasional dan stabilitas kebijakan di dalam negeri.



