Jack Draper Mundur dari Wimbledon: Cedera Lengan Kambuhan Hentikan Langkah Petenis Inggris
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris Jack Draper mundur dari Wimbledon 24 jam sebelum laga pertama karena cedera lengan kronis yang sudah menghantuinya selama setahun.
- Ini kali ketiga Draper absen di Grand Slam berturut-turut, membuat peringkatnya anjlok dari posisi 4 dunia ke 131.
- Kondisi fisik yang rapuh menjadi ancaman serius bagi karier Draper yang sempat dianggap calon penantang dominasi Sinner dan Alcaraz.

Jack Draper, petenis Inggris berusia 24 tahun, harus mengubur mimpinya tampil di Wimbledon tahun ini setelah cedera lengan yang sudah lama mengganggunya kambuh hanya sehari sebelum laga perdana. Keputusan mundur ini diumumkan Draper pada Senin (30/6) melalui pernyataan resmi, membuatnya gagal berhadapan dengan unggulan keenam asal Amerika Serikat, Taylor Fritz, di Centre Court.
“Saya hancur harus mengumumkan mundur dari babak pertama karena cedera lengan yang kambuh,” ujar Draper, seperti dikutip BBC. “Dalam 12 bulan terakhir, banyak momen menyakitkan, tapi ini yang terburuk.” Cedera yang dimaksud adalah memar pada tulang humerus di lengan servisnya, yang telah mengganggunya sejak musim tanah liat 2025. Akibatnya, Draper hanya memainkan 15 pertandingan dalam setahun terakhir dan melewatkan tiga Grand Slam berturut-turut—termasuk Wimbledon, turnamen kandang yang paling ia impikan.
Kabar ini menjadi pukulan kedua bagi tenis Inggris setelah Emma Raducanu mundur pada Minggu karena retak stres di kaki kanan. Draper sendiri sebelumnya sempat tampil di Eastbourne pekan lalu dan mencapai semifinal, memberi harapan bahwa ia siap tampil di Wimbledon. Namun, latihan di lapangan All England Club pada akhir pekan tidak cukup untuk memulihkan kondisinya. Ia tidak turun ke lapangan pada Senin dan segera mengumumkan pengunduran diri.
Mantan petenis top Inggris, Tim Henman, yang kini menjadi komentator BBC, mengungkapkan frustrasinya. “Sangat menjengkelkan karena tahun lalu Draper bermain tenis terbaik dalam hidupnya. Tubuhnya tidak mampu menahan beban,” ujar Henman. Draper sempat menjadi sorotan setelah mencapai semifinal AS Terbuka 2024 dan menjuarai Indian Wells 2025—salah satu turnamen paling bergengsi di luar Grand Slam. Dengan servis kidal dan forehand mematikan, ia dianggap mampu menyaingi dominasi Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz. Namun, cedera demi cedera membuatnya tak bisa melanjutkan momentum.
Draper mengakui bahwa proses pemulihan ini sangat menguras mental. “Ketika sesuatu menghentikan langkahmu secara tiba-tiba, sangat sulit menerimanya—apalagi setelah melewati masa sulit sebelumnya. Saya harus membangun diri lagi, hampir dari awal,” katanya. Untuk memperbaiki kondisi, Draper merekrut mantan petenis nomor satu dunia Andy Murray sebagai bagian tim kepelatihannya untuk musim rumput. Namun, kolaborasi itu belum bisa terwujud di Wimbledon tahun ini. Murray sendiri sebelumnya mengatakan bahwa prioritas utama adalah membuat Draper bisa bermain secara konsisten.
Bagi penggemar tenis Indonesia, kasus Draper menjadi pengingat betapa rentannya karier atlet top terhadap cedera. Di tengah gempuran petenis muda seperti Sinner dan Alcaraz, ketahanan fisik menjadi faktor penentu. Draper kini harus memulai lagi dari peringkat rendah, dan pertanyaan besarnya: apakah ia bisa kembali ke puncak, atau cedera akan terus menghantuinya?



