Mantan Bintang NFL Chris Johnson Berjuang Melawan ALS: Suara Hilang, Semangat Tak Luntur
Baca dalam 60 detik
- Chris Johnson, mantan running back Tennessee Titans, mengumumkan diagnosis ALS yang telah merenggut kemampuannya berbicara.
- Penyakit neurodegeneratif ini berkembang sangat cepat, memaksanya menggunakan alat komunikasi berbasis gerakan mata dalam waktu setahun.
- Kisah Johnson menyoroti urgensi riset ALS dan pentingnya dukungan bagi pasien serta keluarga di tengah keterbatasan pilihan pengobatan.

Mantan running back NFL, Chris Johnson, mengungkapkan bahwa ia didiagnosis menderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) tahun lalu dan kini telah kehilangan kemampuan berbicara. Pengakuan ini disampaikan dalam wawancara emosional di program Good Morning America, mengguncang dunia olahraga dan publik yang mengenalnya sebagai salah satu pemain paling eksplosif di eranya.
Johnson, yang kini berusia 40 tahun, mulai merasakan gejala aneh pada tangan kanannya—kelemahan yang awalnya dianggap sebagai efek samping dari karier sepak bola profesionalnya. Bersama istrinya, Brittany, ia sempat mengira itu hanya cedera saraf biasa. Namun, setelah serangkaian tes, diagnosis ALS sporadis—bentuk paling umum tanpa riwayat keluarga—dikonfirmasi pada pemeriksaan ketiga.
“Mereka memberi tahu kami tentang obat yang mungkin memperpanjang hidup beberapa bulan. Lalu mereka menyuruh kami membereskan urusan,” kenang Johnson, menggambarkan betapa hancurnya harapan saat itu. ALS, yang dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig, menyerang sel-sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang, menyebabkan kelemahan otot progresif dan akhirnya kelumpuhan.
Perkembangan penyakit Johnson tergolong sangat cepat. Hanya setahun setelah diagnosis, ia tak lagi bisa menggendong putrinya yang berusia tujuh tahun saat ulang tahun—sesuatu yang dulu ia lakukan dengan mudah. Kini ia berkomunikasi lewat perangkat canggih yang membaca gerakan matanya, dengan suara sintetis yang direkam sebelum ia kehilangan suara aslinya. “ALS menyerang tubuh jauh lebih cepat dari yang saya bayangkan,” ujarnya.
Meski fisiknya melemah, Johnson menegaskan bahwa identitas dan pikirannya tetap utuh. “Orang kadang melihat disabilitas fisik dan mengira Anda bukan orang yang sama. Saya masih berpikir, bermimpi, dan mencintai keluarga. Tubuh saya saja yang tidak mau bekerja sama.” Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa pasien ALS tetap memiliki kesadaran dan emosi yang utuh, meski terperangkap dalam tubuh yang tak lagi merespons.
Keluarga Johnson memilih untuk terus berjuang dan berharap pada keajaiban. Brittany mengakui bahwa kehidupan sebelumnya telah berubah total, tetapi mereka tidak kehilangan harapan akan terobosan medis atau mukjizat. “Selama para dokter dan peneliti terus berjuang untuk penderita ALS, saya akan terus berjuang juga,” tegas Johnson.
Kisah Chris Johnson membuka mata publik tentang realitas ALS yang kejam. Di Indonesia, kesadaran akan penyakit ini masih rendah, dan akses terhadap diagnosis serta perawatan paliatif sangat terbatas. Kasus seperti Johnson dapat menjadi momentum untuk mendorong riset dan dukungan bagi pasien ALS di tanah air, serta mengingatkan bahwa penyakit neurodegeneratif tidak mengenal batas usia atau prestasi.



