Cedera Retak Tulang Kembali Menghantam, Emma Raducanu Mundur dari Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Emma Raducanu memutuskan mundur dari Wimbledon 2025 setelah hasil pemindaian terakhir menunjukkan retak tulang akibat stres di kaki kanan bawah.
- Keputusan ini diambil hanya beberapa jam setelah petenis berusia 23 tahun itu menyatakan siap bermain, menandai babak baru dalam rangkaian cedera yang menghantuinya sejak gelar US Open 2021.
- Absennya Raducanu membuka peluang bagi petenis lain di undian utama, sekaligus mempertanyakan kesiapan fisiknya menghadapi turnamen Grand Slam ke depan.

Emma Raducanu dipastikan tidak akan tampil di Wimbledon tahun ini setelah mundur pada malam sebelum turnamen dimulai akibat retak tulang karena stres di kaki kanan bawahnya. Keputusan itu diumumkan pada Minggu malam waktu setempat, hanya tujuh jam setelah petenis Inggris berperingkat 30 dunia itu mengatakan kepada wartawan bahwa ia berencana untuk bermain.
Raducanu, yang dijadwalkan menghadapi Antonia Ruzic dari Kroasia di Court One pada hari Senin, mengaku telah melakukan segala cara untuk bisa tampil. Namun, hasil pemindaian terakhir menunjukkan bahwa cedera yang sebelumnya hanya berupa nyeri ringan telah berkembang menjadi retak tulang. โSaya mendapat nasihat medis untuk tidak memaksakan diri,โ ujarnya dalam pernyataan resmi.
Kekhawatiran terhadap kebugaran petenis berusia 23 tahun itu meningkat dalam sepekan terakhir. Ia terlihat menggunakan sepatu pelindung pada Rabu, lalu tidak bisa berlatih pada Kamis dan Jumat karena masalah pada tulang keringnya. Pada Sabtu, ia kembali ke lapangan untuk menguji kondisi, tetapi sesi latihan dengan Anna Kalinskaya harus dipotong sepuluh menit lebih awal. Meskipun ada sedikit perbaikan pada latihan Minggu pagi, pergerakannya masih belum optimal.
Bagi Raducanu, ini adalah pukulan pahit lainnya dalam karir pendek yang diwarnai serangkaian cedera sejak kemenangan dongengnya di US Open lima tahun lalu. Memar tulang di kaki kanan mengakhiri musim 2025-nya pada Oktober lalu dan membatasi latihan di luar musim. Setelah mencapai final Transylvanian Open pada Februari, ia terserang penyakit virus yang membuatnya hanya bermain enam pertandingan dari awal Februari hingga awal Juni.
Penampilan impresifnya hingga final Queen's Club bulan ini sempat menumbuhkan optimisme bahwa ia bisa tampil baik di Wimbledon. Namun, optimisme itu sirna saat tubuhnya kembali bermasalah. โBermain di Wimbledon, di depan pendukung sendiri, berarti segalanya bagi saya. Ini sangat sulit untuk diterima,โ kata Raducanu.
Keputusan mundur ini juga membuka pertanyaan tentang konsistensi fisik Raducanu di masa depan. Siklus maju-mundur akibat cedera terus berulang, dan ia harus kembali bangkit dari keterpurukan. โSaya memiliki orang-orang hebat di sekitar saya, dukungan luar biasa dari tim, keluarga, dan teman-teman. Itu sangat berarti,โ ujarnya.
Bagi penggemar tenis Indonesia, absennya Raducanu mengurangi daya tarik Wimbledon tahun ini. Namun, turnamen tetap menyajikan persaingan ketat di sektor putri, dengan nama-nama seperti Iga Swiatek dan Aryna Sabalenka yang siap bersaing. Pertanyaan besarnya: mampukah Raducanu kembali ke puncak performa tanpa dihantui cedera?



