Stokes Tutup Pintu Kembali ke Timnas Inggris: 'Saya Sudi'
Baca dalam 60 detik
- Kapten Inggris Ben Stokes menegaskan pensiun internasionalnya bersifat final, menolak spekulasi comeback untuk Ashes 2025.
- Keputusan ini dipicu akumulasi beban fisik dan mental selama 15 tahun karier, termasuk insiden pelanggaran jam malam.
- Pensiunnya Stokes membuka peluang bagi regenerasi pemain muda Inggris, sekaligus menjadi pengingat pentingnya manajemen beban atlet.

Ben Stokes, kapten tim kriket Inggris, memastikan bahwa masa baktinya di level internasional telah usai. Dalam pernyataan tegasnya kepada BBC Test Match Special, ia menepis kemungkinan untuk membalikkan keputusan pensiun yang diumumkan pada Minggu lalu, terutama untuk tampil pada seri Ashes melawan Australia tahun depan. “Saya sudah selesai,” ujarnya.
Pensiun mendadak Stokes, yang genap berusia 35 tahun, mengejutkan publik kriket dunia. Karier internasionalnya resmi berakhir setelah Inggris menelan kekalahan 160-run dari Selandia Baru pada Tes ketiga di Hamilton, yang memastikan kekalahan seri 2-1. Momen emosional itu ia lewati dengan tetap tenang, berpelukan dengan lawan dan melambai ke arah penonton setelah wawancara pascapertandingan.
Pelatih kepala Brendon McCullum mengaku telah berusaha membujuk Stokes untuk bertahan saat diberi tahu rencana pensiunnya. Namun, Stokes tetap pada pendiriannya. “Saya sangat puas dengan segalanya saat ini. Ini bukan keputusan yang saya ambil dengan enteng. Butuh waktu lama,” jelasnya. Ketika ditanya ulang apakah ia yakin, jawabannya singkat: “Yakin.”
Dalam pengakuannya, Stokes menyebut bahwa rangkaian insiden dalam beberapa pekan terakhir—termasuk diskors pada Tes kedua karena melanggar jam malam—turut memengaruhi keputusannya. “Mungkin dalam beberapa pekan ke depan kami bisa melihat apakah itu berkontribusi. Namun, fakta utamanya adalah bahwa selama enam hingga 12 bulan terakhir, semua yang saya lakukan dalam waktu panjang telah menguras tenaga,” ungkapnya. Ia juga menyinggung sisi negatif dari perannya sebagai kapten, meski mengaku itu adalah kehormatan besar.
Bagi penggemar kriket di Indonesia, pensiunnya Stokes menjadi pengingat akan pentingnya keseimbangan antara prestasi dan kesehatan mental atlet. Di tengah gempuran jadwal padat kriket internasional, keputusan Stokes menyoroti perlunya manajemen beban yang lebih baik, terutama bagi pemain yang juga menjabat sebagai kapten. Hal ini relevan dengan perkembangan olahraga di Indonesia, di mana atlet mulai lebih terbuka membahas tekanan psikologis.
Dengan kepergian Stokes, Inggris harus segera mencari suksesor yang mampu memimpin regenerasi tim. Pertanyaan besarnya: akankah McCullum mampu membangun skuad baru tanpa sosok karismatik seperti Stokes, atau justru ini menjadi momentum bagi pemain muda untuk bersinar?



