Jepang Siap Uji Klinis Ginjal Babi untuk Manusia pada 2028, Target Atasi Krisis Donor
Baca dalam 60 detik
- PorMedTec akan memulai uji klinis transplantasi ginjal babi ke manusia di dua rumah sakit Jepang pada awal 2028, menargetkan pasien gagal ginjal kronis yang sulit mendapat donor.
- Babi donor direkayasa genetika dengan 10 modifikasi gen untuk menekan risiko penolakan, menggunakan teknologi kloning dari sel impor AS yang telah teruji.
- Jika sukses, Jepang berpotensi mengurangi ketergantungan pada dialisis dan membuka peluang kerja sama dengan Indonesia yang juga menghadapi kekurangan donor organ.

Jepang bersiap memasuki era baru transplantasi organ dengan uji klinis ginjal babi pada manusia yang direncanakan dimulai awal 2028. PorMedTec, perusahaan rintisan bioteknologi asal Universitas Meiji, mengumumkan kesepakatan dengan Rumah Sakit Universitas Hokkaido di Sapporo dan Rumah Sakit Umum Shonan Kamakura di Kanagawa untuk mempersiapkan uji coba yang dikenal sebagai xenotransplantasi ini.
Langkah ini menempatkan Jepang di jalur mengejar ketertinggalan dari Amerika Serikat dan China, yang telah melaporkan delapan kasus transplantasi ginjal babi ke manusia. Salah satu pasien di AS dengan gagal ginjal berhasil bertahan tanpa cuci darah selama 38 pekan sebelum akhirnya menerima ginjal dari donor manusia. PorMedTec berharap dapat menyamai bahkan melampaui capaian tersebut dengan protokol yang lebih ketat.
Rencana uji klinis akan diajukan ke Badan Obat dan Alat Kesehatan Jepang (PMDA) paling lambat akhir tahun fiskal 2026. Setiap rumah sakit akan menangani beberapa kasus untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas. Tolok ukur keberhasilan utama adalah kemampuan pasien bertahan tanpa dialisis setidaknya selama 24 pekan. Peserta yang memenuhi syarat adalah pasien gagal ginjal kronis berusia 50-60 tahun yang sulit mendapatkan donor ginjal dari kerabat dan tidak memiliki komplikasi serius seperti penyakit jantung.
Babi donor akan diproduksi menggunakan teknologi kloning dari sel yang diimpor dari perusahaan bioteknologi AS yang telah memiliki pengalaman klinis. Sepuluh gen dalam sel tersebut telah dimodifikasi untuk menekan respons imun. Seorang pasien yang menerima ginjal babi dari perusahaan AS pada November 2025 tercatat masih hidup tanpa cuci darah hingga 31 pekan pada akhir Juni 2026, menjadi bukti awal potensi metode ini.
PorMedTec menargetkan sistem produksi 100 babi donor per tahun pada 2027. Jika uji klinis berjalan lancar, perusahaan akan mengajukan persetujuan pemerintah sebagai produk pengobatan regeneratif pada 2029 dan mengajak rumah sakit lain di Jepang untuk berkolaborasi. "Kami ingin memanfaatkan pencapaian kelompok AS yang terdepan di dunia dan membangun fondasi untuk penggunaan praktis xenotransplantasi di Jepang," ujar Hiroshi Nagashima, kepala ilmuwan PorMedTec dan profesor biologi reproduksi di Universitas Meiji.
Konteks Indonesia: Indonesia menghadapi tantangan serupa dengan Jepang dalam hal kekurangan donor organ. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan ribuan pasien gagal ginjal menunggu transplantasi, namun ketersediaan donor sangat terbatas. Keberhasilan uji klinis di Jepang dapat membuka peluang kerja sama riset dan alih teknologi, terutama mengingat Indonesia memiliki populasi babi yang besar dan potensi pengembangan babi transgenik. Namun, regulasi dan persepsi masyarakat tentang xenotransplantasi masih perlu dikaji lebih dalam.
Ke depan, pertanyaan terbesar bukan hanya pada keamanan dan efektivitas jangka panjang, tetapi juga pada kesiapan sistem kesehatan dan regulasi di negara-negara berkembang seperti Indonesia untuk mengadopsi teknologi ini. Apakah xenotransplantasi akan menjadi solusi nyata bagi krisis donor organ, atau hanya menjadi alternatif mahal yang tidak terjangkau mayoritas pasien?



