Waspada DBD: Bangladesh Hadapi Lonjakan Kasus, Pelajaran bagi Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Kasus demam berdarah di Bangladesh melonjak delapan kali lipat dalam sebulan, dengan proyeksi peningkatan tiga hingga empat kali lipat pada Agustus.
- Cuaca basah dan pengendalian vektor yang lemah menjadi pemicu utama, sementara sistem kesehatan juga terbebani wabah campak yang telah menewaskan lebih dari 700 orang.
- Ahli mendesak pemerintah Bangladesh segera menerapkan sistem peringatan dini nasional, sebuah langkah yang juga relevan bagi Indonesia yang menghadapi risiko serupa.

Bangladesh tengah menghadapi ancaman serius dari demam berdarah dengue (DBD) dalam dua bulan ke depan, dengan lonjakan kasus yang dipicu oleh cuaca basah dan lemahnya pengendalian nyamuk. Data Kementerian Kesehatan Bangladesh menunjukkan angka kematian akibat DBD naik dari satu kasus pada akhir Mei menjadi 18 pada akhir Juni, sementara jumlah infeksi melonjak lebih dari delapan kali lipat—dari 714 menjadi 5.924 dalam periode yang sama.
Profesor Kabirul Bashar, ahli entomologi dari Universitas Jahangirnagar, memperkirakan kasus DBD di Dhaka setidaknya akan berlipat ganda pada Juli dibandingkan Juni, dan meningkat tiga hingga empat kali lipat pada Agustus. “Tantangan yang lebih besar kemungkinan terjadi di luar ibu kota, di mana beberapa distrik berisiko mengalami kenaikan infeksi yang jauh lebih tajam,” ujarnya. Pada 2023, Bangladesh mencatat lebih dari 321.000 infeksi dan 1.705 kematian akibat DBD—rekor terburuk sepanjang sejarah. Tahun lalu, angka infeksi mencapai 102.861 dengan 413 kematian, setelah sebelumnya 101.214 infeksi dan 575 kematian pada 2024.
Ancaman DBD ini datang bersamaan dengan salah satu wabah campak terparah dalam beberapa dekade di Bangladesh. Sejak pertengahan Maret, lebih dari 100.000 kasus suspek dan 10.000 infeksi terkonfirmasi telah dilaporkan, dengan jumlah kematian melampaui 700 orang. Beban ganda ini semakin menekan sistem kesehatan Bangladesh yang sudah rapuh. Curah hujan tinggi, suhu hangat, dan kelembaban tinggi menciptakan kondisi ideal bagi penularan DBD, sementara upaya pengendalian nyamuk tidak mampu mengimbangi ancaman yang berkembang.
Bashar mendesak pemerintah untuk segera membangun sistem peringatan dini nasional guna mengidentifikasi area perkembangbiakan nyamuk dan titik panas yang meningkat, sehingga otoritas dapat merespons lebih cepat dan memperingatkan komunitas sebelum wabah memburuk. “Jendela untuk mengendalikan wabah semakin sempit,” tegasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi tindakan preventif yang terkoordinasi, terutama di negara berkembang dengan infrastruktur kesehatan terbatas.
Bagi Indonesia, situasi di Bangladesh menjadi pengingat penting. Indonesia juga menghadapi risiko DBD yang tinggi, terutama saat musim hujan. Data Kementerian Kesehatan RI mencatat lebih dari 143.000 kasus DBD pada 2024 dengan 1.236 kematian. Tanpa sistem peringatan dini yang efektif dan pengendalian vektor yang konsisten, lonjakan serupa bisa terjadi. Pelajaran dari Bangladesh menunjukkan bahwa cuaca ekstrem dan kelemahan pengawasan dapat memperparah wabah secara eksponensial. Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah cukup siap menghadapi potensi lonjakan DBD di tengah perubahan iklim yang semakin tidak menentu?



