Peringatan Kanker Usus: Konsumsi Makanan Ultraproses di Kalangan Muda Indonesia Mengkhawatirkan
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru mengonfirmasi hubungan kuat antara konsumsi pangan ultraproses (UPF) dan peningkatan risiko kanker usus, terutama pada perempuan muda.
- Di Indonesia, hampir separuh penduduk usia 15-34 tahun rutin mengonsumsi daging olahan dan minuman manis, menjadikan mereka kelompok rentan.
- Para ahli menekankan belum ada bukti kausalitas langsung, namun rekomendasi mengurangi UPF tetap relevan demi menekan risiko kanker.

Kebiasaan mengonsumsi makanan ultraproses (UPF) seperti sosis, nugget, dan minuman kemasan terbukti meningkatkan risiko kanker usus, temuan studi kohort terbaru dari Amerika Serikat mengonfirmasi. Riset yang dipublikasikan pada 2025 itu mengamati 29 ribu perawat perempuan di bawah 50 tahun selama 24 tahun dan menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi UPF setara 34,8% dari total kalori harian—sekitar 5–6 porsi per hari—berisiko tinggi terkena adenoma, jenis kanker yang tumbuh di lapisan dinding usus.
Kanker usus besar (kolorektal) merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Data Global Cancer Observatory 2022 mencatat 19.255 kematian akibat kanker ini. Gaya hidup tidak sehat, khususnya konsumsi UPF, disebut sebagai faktor pemicu utama. Studi lain pada 2022 yang melibatkan 46 ribu tenaga kesehatan di AS selama 28 tahun juga menemukan 3.216 kasus kanker usus besar terkait konsumsi makanan siap saji, bahkan setelah memperhitungkan indeks massa tubuh dan kualitas pola makan.
Mekanisme pasti UPF memicu kanker belum sepenuhnya dipahami, tetapi para peneliti menduga bahan kimia tambahan seperti pemanis buatan, pewarna, dan pengawet dapat merusak fungsi penyerapan nutrisi usus serta memicu peradangan kronis. Peradangan berulang ini, ditambah obesitas yang juga dipicu UPF, mendorong sel-sel usus membelah lebih cepat dan berpotensi menjadi kanker.
Kendati bukti epidemiologis kuat, para ahli nutrisi mengingatkan bahwa belum ada uji coba terkontrol secara acak yang membuktikan UPF sebagai penyebab langsung kanker. Secara etis, mustahil menugaskan sekelompok orang untuk mengonsumsi UPF dalam jumlah besar sepanjang hidup demi keperluan riset. Namun, dampak negatif UPF terhadap kesehatan metabolik dan inflamasi sudah terdokumentasi luas, sehingga langkah pencegahan tetap diperlukan.
Bagi masyarakat Indonesia, temuan ini menjadi alarm tersendiri. Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan hampir separuh penduduk usia produktif sudah terpapar UPF secara rutin. Jika tren ini berlanjut, angka kanker usus diprediksi akan terus meningkat. American Institute for Cancer Research (AICR) merekomendasikan perbanyak konsumsi sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh, serta membatasi daging olahan. Untuk pengawetan alami, garam dan gula dalam jumlah terbatas (maksimal 1 sendok teh garam dan 4 sendok makan gula per hari) bisa digunakan, sementara minyak goreng sebaiknya tidak dipakai berulang.
Langkah paling sederhana adalah memulai dari dapur sendiri: memasak makanan segar dengan bahan minimal olahan. Dengan begitu, risiko kanker usus dan penyakit kronis lainnya bisa ditekan secara signifikan. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah kebiasaan konsumsi UPF yang sudah mengakar mampu diubah demi kesehatan jangka panjang?



