DR Congo vs Inggris: Laga Sejarah yang Lebih Besar dari Rumble in the Jungle?
Baca dalam 60 detik
- DR Congo akan menghadapi Inggris di babak 32 besar Piala Dunia, 52 tahun setelah debut memalukan mereka sebagai Zaire pada 1974.
- Kemenangan atas Uzbekistan menjadi kemenangan pertama DR Congo di Piala Dunia, menandai kebangkitan setelah era konflik dan krisis.
- Laga ini dinilai oleh pengamat sebagai momen untuk memulihkan martabat bangsa, mirip dengan efek Rumble in the Jungle pada 1974.

DR Congo akan menghadapi Inggris pada babak 32 besar Piala Dunia, Rabu (17:00 BST) di Atlanta, dalam laga yang oleh banyak pihak disebut sebagai momen terbesar sepak bola negara itu sejak debut buruk mereka pada 1974. Lebih dari sekadar pertandingan, partai ini dianggap sebagai kesempatan untuk memulihkan harga diri bangsa yang telah lama dilanda konflik dan kemiskinan.
Pada 1974, Zaireโnama lama DR Congoโmenjadi negara pertama dari Afrika sub-Sahara yang lolos ke Piala Dunia. Namun, penampilan mereka di Jerman Barat menjadi mimpi buruk: tiga kekalahan, 14 gol kebobolan, tanpa satu pun gol tercipta. Kekalahan 9-0 dari Yugoslavia dan aksi kontroversial bek Mwepu Ilunga yang menendang bola saat tendangan bebas Brasil menjadi simbol ketidaksiapan tim. Ilunga kemudian mengaku melakukannya sebagai protes karena tidak dibayar bonus oleh federasi.
Namun, beberapa bulan kemudian, Kinshasa menjadi tuan rumah pertandingan tinju legendaris "Rumble in the Jungle" antara Muhammad Ali dan George Foreman. Presiden Mobutu Sese Seko menggelontorkan dana besar untuk acara itu, yang berhasil menyedot perhatian dunia. Kini, 52 tahun kemudian, DR Congo kembali ke panggung global, kali lewat sepak bola.
Bagi DR Congo, perjalanan ke Piala Dunia kali ini penuh rintangan. Konflik di wilayah timur, wabah Ebola, dan krisis ekonomi masih membayangi. Namun, pemain seperti striker Yoane Wissa menegaskan bahwa mereka bermain untuk rakyat yang menderita. "Setiap kali kami memakai jersey ini, kami memikirkan mereka yang berperang. Kami ingin perdamaian," ujarnya setelah kemenangan atas Uzbekistan.
Dari sisi teknis, DR Congo bukan lagi tim yang mudah diremehkan. Dengan pemain-pemain yang merumput di liga Eropa seperti Axel Tuanzebe (Ipswich Town) dan Yoane Wissa (Brentford), mereka mampu bersaing. Kemenangan 3-1 atas Uzbekistan di laga penentu lolos ke babak gugur menunjukkan pertahanan yang solid dan serangan balik mematikan.
Bagi Indonesia, kisah DR Congo memberikan pelajaran berharga. Negara dengan sumber daya alam melimpah namun terbelenggu korupsi dan konflik, mampu bangkit lewat sepak bola. Keberhasilan mereka memanfaatkan diaspora juga patut dicontoh, mengingat Indonesia memiliki banyak pemain keturunan yang bermain di Eropa. Jika DR Congo bisa melaju ke babak 16 besar, bukan tidak mungkin Indonesia suatu hari nanti mengikuti jejak serupa.
Menjelang laga melawan Inggris, DR Congo tidak diunggulkan. Namun, seperti kata jurnalis Justin Kabala, momen ini "hampir lebih besar dari Rumble in the Jungle". Pertanyaannya, mampukah Leopards mengulang kejutan Ali dan menjatuhkan favorit? Atau sejarah kelam 1974 akan kembali terulang?



