Gyokeres: Piala Dunia Pengalaman Luar Biasa, Swedia Bisa Jadi Tim Tangguh
Baca dalam 60 detik
- Viktor Gyokeres mencetak satu gol dan dua assist di debut Piala Dunia, namun Swedia tersingkir di 32 besar oleh Prancis.
- Penyerang Arsenal itu memuji dukungan suporter Swedia yang tak henti bernyanyi meski tertinggal, dan menyebutnya sebagai motivasi utama.
- Gyokeres optimistis Swedia yang masih muda bisa menjadi tim sangat kuat di masa depan, terutama menatap Piala Dunia 2030.

Viktor Gyokeres menegaskan bahwa Piala Dunia adalah panggung terbesar dalam karier seorang pesepakbola, dan ia merasa bangga bisa merasakannya meski harus berakhir dengan kekalahan. Penyerang Arsenal berusia 28 tahun itu menjadi sorotan saat Swedia menyingkirkan Tunisia 5-1 di laga debutnya, dengan sumbangan satu gol dan dua assist. Namun, langkah Swedia terhenti di babak 32 besar setelah dihadang Prancis, unggulan utama turnamen, dengan skor 3-0.
Meski kecewa, Gyokeres memilih melihat sisi positif. โPiala Dunia tidak bisa lebih besar dari ini. Ini luar biasa dan saya sangat bangga,โ ujarnya kepada FIFA. Ia juga menyoroti dukungan luar biasa dari suporter Swedia yang terus bernyanyi meski kalah jumlah dan tertinggal sejak gol Kylian Mbappe di penghujung babak pertama. โMerekalah alasan kami di sini. Kami tidak bisa melakukan ini tanpa mereka. Maaf kami tidak bisa melangkah lebih jauh,โ tambahnya.
Gyokeres menilai Prancis sebagai tim yang sangat solid, terutama di lini serang. โMereka sangat terhubung dalam menyerang. Saling mengenal dengan baik, Anda bisa melihat dan merasakannya di lapangan. Jika mereka terus seperti ini dan menjaga pertahanan tetap terorganisir, saya yakin mereka akan melaju jauh,โ katanya. Ia juga memuji rekan setimnya di Arsenal, William Saliba, yang menjadi bagian dari pertahanan kokoh Prancis. โSenang bermain melawannya. Dia bek yang sangat bagus. Itulah yang saya suka: bermain melawan yang terbaik,โ ucap Gyokeres.
Menatap masa depan, Gyokeres optimistis Swedia bisa menjadi kekuatan baru. โKami adalah tim baru. Belum pernah bermain di turnamen besar sebelumnya, atau setidaknya hanya satu dari kami yang punya pengalaman. Dibandingkan tim lain, kami masih sangat muda. Prancis sudah sering bermain bersama di turnamen. Saya pikir kami memiliki pemain yang sangat berbakat. Seiring waktu, saya yakin kami akan menjadi tim yang sangat, sangat bagus,โ ungkapnya. Ia juga mengaku antusias menatap Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Maroko, Portugal, dan Spanyol.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perjalanan Swedia ini bisa menjadi pelajaran berharga. Tim yang sedang dalam masa transisi dan regenerasi, seperti halnya Timnas Indonesia, membutuhkan waktu dan pengalaman untuk bersaing di level tertinggi. Dukungan suporter yang tak kenal lelah juga menjadi faktor penting dalam membangun mentalitas juang. Pertanyaan besarnya, mampukah Swedia, atau bahkan Indonesia, mengulangi kisah sukses tim-tim muda yang kemudian menjelma menjadi raksasa sepak bola?



