Gelombang Panas Eropa Mematikan: Suhu Capai 40,9 Derajat, Ratusan Tewas
Baca dalam 60 detik
- Gelombang panas ekstrem melanda Eropa dengan suhu mencapai 40,9ยฐC di Paris, memecahkan rekor Juni dan menyebabkan ratusan kematian.
- Infrastruktur publik seperti rel kereta dan jalan raya rusak parah, sementara rumah sakit kewalahan menangani pasien dan peralatan medis terganggu.
- Para ilmuwan menyatakan peristiwa ini hampir mustahil terjadi tanpa perubahan iklim, dan suhu malam yang tinggi meningkatkan risiko kematian mendadak.

Gelombang panas yang menerjang Eropa sejak 20 Juni lalu telah menjadi bencana iklim paling mematikan dalam catatan modern, dengan suhu di Paris menembus 40,9 derajat Celsius pada Rabu lalu โ rekor tertinggi untuk bulan Juni. Otoritas kesehatan di berbagai negara kini bersiaga penuh menyusul lonjakan angka kematian yang disebut sebagai 'kematian berlebih' akibat panas ekstrem.
Di Prancis, Menteri Kesehatan Stephanie Rist mengakui bahwa jumlah korban jiwa dipastikan akan terus bertambah. Data dari layanan gawat darurat Paris mencatat 55 kematian dalam 24 jam, padahal angka normal hanya tiga hingga empat kasus per hari. "Angka 55 sangat besar. Ini jelas kematian berlebih akibat gelombang panas," ujar Patrick Pelloux, dokter darurat Paris dan presiden asosiasi dokter UGD Prancis, kepada Reuters.
Inggris juga mencatat rekor suhu Juni tertinggi selama tiga hari berturut-turut, mencapai 36,9 derajat Celsius. Badan Meteorologi Inggris (Met Office) memperpanjang peringatan merah untuk wilayah selatan dan timur Inggris hingga hari ketiga โ pertama kalinya dalam sejarah. Lebih dari seratus sekolah ditutup, dan layanan darurat London melaporkan lonjakan panggilan bantuan hingga 50 persen. Seorang remaja laki-laki ditemukan tewas setelah berenang di danau di Inggris tengah.
Di Belanda, peringatan merah diberlakukan hampir di seluruh wilayah dengan suhu diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius. Banyak sekolah tutup, sementara turis asing seperti Ruby Prescott (20) asal Selandia Baru mengaku kaget: "Saya pikir akan panas, tapi tidak separah ini." Sementara itu, di Jerman, permukaan jalan tol A2 melengkung dan retak akibat suhu ekstrem. Austria dan Swedia juga melaporkan rel kereta bengkok hingga menyebabkan kereta barang tergelincir di jalur antara Stockholm dan Gothenburg.
Gelombang panas ini dipicu oleh pola cuaca yang dikenal sebagai 'Omega block', yaitu massa udara panas yang terperangkap di suatu wilayah selama berhari-hari. Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), panas akan bergerak ke Eropa tengah dan Balkan pada akhir bulan. Para ilmuwan dari kelompok World Weather Attribution menegaskan bahwa peristiwa ini "hampir mustahil" terjadi tanpa perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Suhu malam yang tak kunjung turun di bawah 22 derajat Celsius membuat tubuh tidak punya waktu memulihkan diri, meningkatkan risiko kematian mendadak.
Bagi Indonesia, gelombang panas Eropa menjadi pengingat akan urgensi adaptasi iklim. Meski Indonesia tidak mengalami suhu ekstrem seperti Eropa, pola cuaca ekstrem seperti El Niรฑo dan gelombang panas lokal semakin sering terjadi. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan suhu di beberapa wilayah Indonesia bisa mencapai 38 derajat Celsius saat puncak kemarau. Infrastruktur kesehatan dan kelistrikan di Indonesia juga perlu diantisipasi terhadap lonjakan permintaan pendingin ruangan yang bisa membebani jaringan listrik. Pelajaran dari Eropa: investasi pada sistem pendingin publik dan tata kota yang adaptif iklim bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
"Kami melihat peralatan medis seperti MRI dan mesin terapi kanker terganggu oleh panas. Pasien dan staf sangat menderita," kata Hilary Williams, wakil presiden klinis Royal College of Physicians Inggris.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka bukan lagi apakah gelombang panas akan kembali, melainkan seberapa siap negara-negara โ termasuk Indonesia โ dalam melindungi warganya dari ancaman yang semakin nyata ini. Akankah investasi pada infrastruktur tahan panas dan sistem peringatan dini menjadi prioritas sebelum korban berjatuhan lebih banyak?



