Formula E Menuju Final London: Sembilan Pembalap Masih Berebut Gelar, Siapa yang Akan Menang?
Baca dalam 60 detik
- Dengan dua seri tersisa, sembilan pembalap termasuk lima mantan juara masih berpeluang menjadi kampiun Formula E musim ini.
- Jake Dennis memimpin klasemen dengan keunggulan tipis dua poin atas Mitch Evans, yang akan menjalani balapan terakhirnya bersama Jaguar.
- Akhir pekan ini juga menjadi momen perpisahan dengan sirkuit ExCel London dan era Gen3, sebelum Formula E beralih ke mobil Gen4 yang lebih cepat.

LONDON โ Persaingan gelar juara Formula E musim 2024/2025 memasuki babak penentuan. Sembilan pembalap, lima di antaranya mantan juara dunia, masih memiliki peluang matematis untuk menjadi kampiun saat seri pamungkas digelar di ExCel London, akhir pekan ini. Dengan hanya dua balapan tersisa dari total 17 seri, ketegangan memuncak dan segalanya bisa berubah dalam sekejap.
Jake Dennis, pembalap asal Inggris yang merebut gelar pada musim 2022/2023, memimpin klasemen sementara dengan 146 poin. Namun, keunggulannya hanya dua poin atas Mitch Evans dari Jaguar. Evans, yang telah membela tim sejak 10 tahun lalu, berambisi menjadi pembalap Selandia Baru pertama yang meraih gelar juara dunia Formula E sebelum pindah ke tim Opel musim depan. Di belakang mereka, Pascal Wehrlein dari Porsche, juara bertahan musim lalu, menguntit dengan selisih tiga poin, siap mengambil alih jika terjadi kesalahan.
Persaingan tidak hanya ketat di posisi terdepan. Oliver Rowland, yang juga pembalap tuan rumah, berada di posisi keempat dengan 132 poin, disusul Edoardo Mortara dari Mahindra dengan 116 poin. Antonio Felix da Costa, Nick Cassidy, Nico Mueller, dan Nyck de Vries juga masih berpeluang, meski harus bergantung pada hasil buruk para pesaing. Di level tim, Jaguar dan Porsche hanya terpaut 14 poin, menambah bumbu persaingan di balapan ganda akhir pekan ini.
Seri London ini bukan sekadar penentu gelar. Ini juga menjadi perpisahan dengan ExCel London, sirkuit indoor-outdoor yang telah menjadi ikon balapan sejak 2015. Tahun depan, putaran Inggris akan pindah ke Brands Hatch, dan Formula E akan memasuki era baru dengan mobil Gen4 yang lebih ringan dan jauh lebih cepat. Perubahan ini diharapkan semakin meningkatkan daya tarik ajang balap listrik yang terus berkembang.
Salah satu momen emosional akhir pekan ini adalah pensiunnya Lucas di Grassi, pembalap Brasil yang memenangi balapan pertama Formula E di Beijing pada 2014 dan menjadi juara dunia musim 2016/2017. Setelah 30 tahun berkarier di dunia balap, termasuk satu musim di Formula 1 pada 2010, di Grassi akan mengucapkan selamat tinggal sebagai pembalap profesional. "Formula E memiliki tempat yang sangat istimewa dalam kisah balap saya. Saya menyaksikan ajang ini tumbuh dari ide yang dianggap mustahil menjadi salah satu seri balap paling kompetitif dan inovatif di dunia," ujarnya.
Bagi penggemar di Indonesia, ajang Formula E mungkin belum sepopuler MotoGP atau F1, tetapi perkembangannya layak dicermati. Dengan semakin maraknya kendaraan listrik di dalam negeri, balapan ini menjadi ajang promosi teknologi ramah lingkungan yang relevan dengan tren global. Selain itu, kehadiran pembalap Asia Tenggara di masa depan bisa menjadi daya tarik tersendiri, mengingat potensi pasar otomotif listrik yang besar di kawasan ini.
Dengan dua balapan yang akan digelar pada Sabtu dan Minggu, pertanyaan besarnya adalah: akankah Dennis mempertahankan keunggulannya, atau akankah Evans atau Wehrlein mencuri gelar di menit-menit terakhir? Satu hal yang pasti, akhir pekan ini akan menjadi tontonan yang menegangkan bagi para penggemar balap listrik di seluruh dunia.



