Empat Bintang Hoki Kanada Tetap Dilarang Bela Timnas Usai Bebas dari Tuduhan Asusila
Baca dalam 60 detik
- Dewan banding independen memutuskan empat pemain hoki es Kanada tetap diskors dari program nasional karena melanggar kode etik, meski telah divonis bebas.
- Alex Formenton, satu dari lima terdakwa, justru langsung direhabilitasi, sementara empat lainnya harus menunggu hingga 2030 untuk kembali memperkuat tim internasional.
- Keputusan ini memisahkan otoritas NHL dan Hockey Canada, sekaligus memicu diskusi global tentang budaya toksik dalam olahraga pria.

Empat pemain hoki es Kanada yang telah divonis bebas dari tuduhan kekerasan seksual tahun lalu tetap tidak akan diperbolehkan mewakili negaranya di kancah internasional. Keputusan ini diumumkan oleh dewan banding independen yang menilai mereka melanggar kode etik Hockey Canada, menyusul insiden yang terjadi pada 2018 silam.
Kelima pemain yang pernah membela tim junior Kanada di bawah 20 tahun itu—Michael McLeod, Dillon Dube, Cal Foote, Carter Hart, dan Alex Formenton—dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan pada Juli 2025. Namun, dewan banding memutuskan bahwa empat di antaranya tetap diskors dari semua program yang disetujui Hockey Canada. Hanya Formenton yang dinyatakan memenuhi syarat untuk segera kembali, sementara empat lainnya harus menunggu bertahun-tahun.
Jadwal pemulihan hak mereka pun berbeda-beda. Foote baru bisa kembali pada 10 November tahun ini, sedangkan Hart dan Dube harus menunggu hingga 2027 dan 2028. McLeod menjadi yang paling lama, yakni baru pada 10 November 2030. Pihak berwenang tidak memberikan penjelasan mengapa tanggal pemulihan berbeda untuk masing-masing pemain, memicu spekulasi di kalangan pengamat olahraga.
Perlu dicatat, keputusan ini tidak memengaruhi karier mereka di National Hockey League (NHL). NHL beroperasi secara terpisah dari Hockey Canada dan telah melakukan investigasi sendiri atas insiden yang sama. Semua lima pemain telah diizinkan menandatangani kontrak baru dengan tim NHL sejak akhir tahun lalu. Ini menunjukkan adanya dualisme otoritas dalam penegakan aturan di dunia hoki profesional.
Kasus ini bermula dari tuduhan kekerasan seksual terhadap seorang perempuan yang disebut EM di sebuah hotel di London, Ontario, pada 2018. Saat itu, EM yang berusia 20 tahun bertemu dengan para pemain di sebuah bar dan kemudian pergi ke kamar hotel untuk berhubungan seks secara konsensual dengan McLeod. Namun, pemain lain kemudian masuk dan melakukan tindakan seksual lebih lanjut. Inti persidangan adalah apakah EM memberikan persetujuan untuk setiap tindakan seksual yang terjadi malam itu. Pengacara para pemain berargumen bahwa EM meminta mereka berhubungan seks dan mereka yakin mendapat persetujuan. Sebaliknya, EM bersaksi bahwa ia dalam keadaan mabuk dan merasa takut, meskipun awalnya setuju dengan McLeod, ia tidak menyetujui apa yang terjadi setelahnya.
Hakim Maria Carroccia, yang memvonis bebas para pemain pada Juli 2025, menyatakan bahwa kesaksian EM tidak "kredibel atau dapat diandalkan". Keputusan ini menuai kontroversi dan memicu perdebatan publik yang luas di Kanada. Sekretaris Olahraga Kanada, Adam van Koeverden, dalam pernyataannya menyebut kasus ini memulai percakapan nasional tentang keamanan dalam olahraga dan budaya bermasalah dalam hoki pria. "Suara perempuan dan penyintas, serta keberanian mereka untuk berbicara, telah membawa perubahan dalam budaya toksik ini," ujarnya. Ia juga menekankan bahwa organisasi olahraga nasional harus bertanggung jawab.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya tata kelola yang bersih dan perlindungan terhadap atlet, terutama dalam cabang olahraga yang sedang berkembang seperti hoki es. Meskipun Indonesia belum memiliki tradisi kuat dalam olahraga ini, prinsip akuntabilitas dan kode etik yang ditegakkan oleh federasi internasional dapat menjadi pelajaran bagi pengelola olahraga nasional. Fenomena pemisahan otoritas antara liga profesional dan federasi nasional juga relevan, mengingat di Indonesia sering terjadi tarik-menarik kepentingan antara kompetisi domestik dan tim nasional.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah keputusan ini akan mengubah cara federasi olahraga di seluruh dunia menangani kasus kekerasan seksual. Apakah akan ada standar yang lebih ketat, atau justru celah hukum yang dimanfaatkan? Yang jelas, kasus ini telah membuka luka lama dan memaksa dunia olahraga untuk berbenah, tidak hanya di Kanada, tetapi juga secara global.



