Mark English Ukir Sejarah: Emas Pertama Irlandia di 800m Euro
Baca dalam 60 detik
- Mark English mempersembahkan emas perdana bagi Irlandia di nomor 800m putra Kejuaraan Atletik Eropa, mengalahkan Marino Bloudek dengan catatan waktu 1:45.26.
- Kemenangan ini menjadi puncak karier pelari berusia 33 tahun yang sebelumnya dua kali meraih perunggu, sekaligus memecahkan rekor Eropa yang bertahan 48 tahun di semifinal.
- Keberhasilan English, yang juga seorang dokter, diprediksi menginspirasi generasi baru atlet Irlandia dan memperkuat posisi negaranya di panggung atletik Eropa.

Mark English mencatatkan namanya dalam buku sejarah atletik Irlandia dengan merebut medali emas nomor 800 meter putra pada Kejuaraan Atletik Eropa di Birmingham, Minggu (9/3). Pelari berusia 33 tahun asal Donegal itu menjadi orang Irlandia pertama yang berdiri di puncak podium tertinggi nomor tersebut, mengungguli pesaing terberatnya, Marino Bloudek dari Kroasia, dalam sprint akhir yang menegangkan.
English, yang juga berprofesi sebagai dokter, menyelesaikan lintasan dalam waktu 1 menit 45,26 detik. Ia baru mengambil alih posisi terdepan pada 100 meter terakhir, melewati Bloudek yang tampil agresif di tikungan menuju garis finis. Kemenangan ini melengkapi perjalanan panjangnya setelah dua kali meraih perunggu, yakni pada 2014 di Zurich dan 2022 di Munich. Sebelum final, ia telah mencuri perhatian dengan memecahkan rekor Eropa milik Olaf Beyer yang bertahan 48 tahun pada babak semifinal.
Bagi Irlandia, emas ini menjadi yang pertama di kejuaraan tersebut. Sementara itu, Bloudek harus puas dengan perak, dan Mohamed Attaoui dari Spanyol membawa pulang perunggu. Di sisi lain, nasib kurang berpihak pada pelari tuan rumah. Ben Pattison finis di posisi keenam, sementara rekan setimnya, Max Burgin, terpaksa mundur dari final karena cedera saat pemanasan. Pattison mengaku kecewa berat, menyebut peluang emas itu gagal dimanfaatkan.
Kemenangan English tidak hanya bermakna bagi dirinya, tetapi juga bagi perkembangan atletik Irlandia. Sebagai negara kecil dengan populasi sekitar 5 juta jiwa, pencapaian ini menjadi bukti bahwa konsistensi dan kerja keras mampu menembus dominasi negara-negara besar Eropa. Bagi Indonesia, kisah English relevan dengan upaya pembinaan atlet jarak menengah yang selama ini masih tertinggal. Prestasi semacam ini menunjukkan pentingnya program latihan jangka panjang dan dukungan medis bagi atlet, dua hal yang kerap menjadi kendala di Tanah Air.
Malam yang sama juga menjadi saksi kebangkitan Rhasidat Adeleke, sprinter Irlandia berusia 23 tahun, yang meraih perak di nomor 200 meter putri. Adeleke finis di belakang Amy Hunt dari tuan rumah dengan catatan waktu 22,28 detik, hanya unggul 0,01 detik dari Dina Asher-Smith untuk merebut posisi kedua. Ini merupakan medali Eropa keempatnya, setelah sebelumnya meraih perak 400m di Roma 2024, emas estafet campuran 4x400m, dan perak estafet putri. Prestasi ini terasa istimewa mengingat ia baru pulih dari cedera yang mengganggunya sepanjang musim.
Keberhasilan Inggris dan Adeleke menegaskan bahwa Irlandia kini memiliki generasi emas di lintasan. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah momentum ini dapat dipertahankan menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Dengan usia English yang sudah 33 tahun, regenerasi menjadi kunci. Sementara itu, bagi Indonesia, pelajaran berharga dapat diambil: investasi pada pembinaan atlet muda dan fasilitas medis yang memadai adalah prasyarat untuk bersaing di level tertinggi. Akankah Indonesia memiliki 'Mark English' sendiri di masa depan?



