Mendagri Tito Karnavian Resmikan Festival Fulan Fehan IV, Savana Belu Jadi Panggung Persahabatan Indonesia-Timor Leste
Baca dalam 60 detik
- Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian membuka Festival Fulan Fehan IV di Belu, NTT, dengan tarian kolosal 'Dance for Friendship' yang melibatkan empat suku.
- Festival ini memanfaatkan savana alami sebagai panggung, berbeda dari acara konvensional di stadion, dan dihadiri delegasi Timor Leste serta Australia.
- Tito menargetkan festival ini menjadi ajang internasional, memperkuat diplomasi budaya Indonesia dengan negara tetangga.

Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian secara resmi membuka Festival Fulan Fehan IV di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (27/6). Pembukaan ditandai dengan pemukulan tihar, alat musik tradisional khas Belu, yang menggema di hamparan savana Fulan Fehan.
Festival tahun ini mengusung tema "Dance for Friendship" β sebuah tarian kolosal yang merepresentasikan persahabatan antara Indonesia dan Timor-Leste. Empat suku lokal tampil bersama, menampilkan kekayaan budaya daerah di atas panggung alami berupa padang rumput berbukit dengan latar Gunung Lakaan.
Tito mengaku baru pertama kali menyaksikan langsung Festival Fulan Fehan. Selama ini, ia lebih sering menghadiri pertunjukan di stadion buatan manusia di Jakarta, Bandung, atau Surabaya. "Di satu tempat yang bukan dibangun oleh manusia. Di tempat padang rumput savana yang indah ini, berbukit-bukit, di sekitarnya ada Gunung Lakaan yang indah, udara yang indah, bukan buatan manusia, tapi Tuhan Yang Maha Kuasa," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Menurut Tito, keindahan alam Fulan Fehan merupakan anugerah bagi masyarakat Belu, NTT, dan Indonesia secara keseluruhan. Tema Dance for Friendship dinilainya sejalan dengan pesan Presiden Prabowo Subianto bahwa persahabatan lebih berharga daripada permusuhan. "One thousand friends are not enough, one enemy is already too many. Empat suku bergabung menjadi satu, berdansa bersama-sama, menjadi sahabat-sahabat," tuturnya.
Kehadiran peserta dan tamu dari Timor-Leste serta Australia memperkuat semangat persahabatan lintas negara yang dibangun lewat seni dan budaya. Tito menyebut festival ini menjadi ruang mempererat hubungan Indonesia dengan negara-negara tetangga. "Melalui festival ini, saya bangga menjadi bagian dan bisa menyaksikan saksi sejarah di Belu, NTT, dengan seni dan budayanya," tandasnya.
Bagi Indonesia, festival ini memiliki nilai strategis dalam diplomasi budaya. Di tengah ketegangan geopolitik global, acara seperti Fulan Fehan menjadi soft power yang memperkuat citra Indonesia sebagai bangsa yang ramah dan terbuka. Keberagaman tenun, tarian, dan bahasa di Belu tetap bersatu dalam bingkai NKRI, sekaligus menjadi jembatan dengan tetangga dekat.
Tito optimistis penyelenggaraan Festival Fulan Fehan akan semakin meriah pada tahun-tahun berikutnya. Skala acara diharapkan terus berkembang seiring bertambahnya jumlah pengunjung dan dukungan dari berbagai pihak. "Semoga tahun depan atau di tahun berikutnya, Festival Fulan Fehan akan menjadi festival internasional," pungkasnya.
Pembukaan Festival Fulan Fehan IV juga dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto, Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Belu Willybrodus Lay, Ketua Umum TP PKK Tri Tito Karnavian, serta delegasi asing seperti Wakil Kepala Staf Kepresidenan Timor-Leste Graziela Fatima Liu Soares, Sekretaris Negara Bidang Seni dan Kebudayaan Timor-Leste Jorge Cristovao, dan Wali Kota Darwin Peter Styles. Pertanyaannya, akankah festival ini mampu bersaing dengan event budaya internasional lain dan menjadi agenda tahunan yang dinanti?



