Longsor Tambang Giok di Myanmar Tewaskan Lima Pencari Batu Mulia
Baca dalam 60 detik
- Hujan deras memicu longsoran timbunan limbah tambang giok di Kachin, Myanmar, menewaskan lima pencari batu mulia dan belasan lainnya hilang.
- Tambang giok di Myanmar sebagian besar dikuasai kelompok bersenjata pasca-kudeta, yang menggunakan keuntungan untuk mendanai konflik.
- Kecelakaan tambang kerap terjadi saat musim hujan, mengancam ribuan pekerja informal yang menggantungkan hidup pada sisa-sisa tambang.

Hujan muson yang mengguyur Myanmar bagian utara sejak akhir pekan lalu memicu longsornya timbunan limbah di sebuah tambang giok terbengkalai di Negara Bagian Kachin. Peristiwa yang terjadi Minggu malam itu menewaskan sedikitnya lima orang yang tengah mencari sisa-sisa batu giok, sementara sekitar 15 lainnya masih tertimbun dan belum ditemukan hingga Selasa (30/6).
Kachin merupakan wilayah penghasil giok terbesar di dunia, dengan nilai perdagangan yang sangat tinggi, terutama ke China. Namun, di balik kemewahan batu giok yang dianggap membawa keberuntungan di banyak budaya Asia, terdapat industri pertambangan yang nyaris tanpa pengawasan. Sejak kudeta militer 2021, banyak tambang dikuasai oleh faksi-faksi bersenjata yang berperang dalam perang saudara, menjadikan tambang sebagai sumber pendanaan konflik.
Menurut laporan media pemerintah Myanmar, The Global New Light of Myanmar, longsor terjadi setelah hujan deras berhari-hari membuat tumpukan limbah tambang lama menjadi tidak stabil. Sekitar 20 pencari giok independen yang bekerja di bawah lampu sorot saat malam hari tertimbun ketika gundukan limbah tiba-tiba ambruk. Tim penyelamat masih terus menggali untuk mencari korban yang hilang.
Kecelakaan massal di tambang Myanmar bukanlah hal baru. Setiap musim hujan, risiko longsor meningkat drastis karena air hujan meresap ke dalam timbunan limbah dan lereng tambang yang digali tanpa standar keselamatan. Para pencari batu giok—yang berada di anak tangga terbawah industri ini—bekerja dengan risiko tinggi tanpa perlindungan. Mereka mengais sisa-sisa batu yang terbuang dari operasi tambang utama, demi bertahan hidup di tengah kemiskinan.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya regulasi ketat di sektor pertambangan. Meski Indonesia bukan produsen giok, praktik pertambangan ilegal dan tidak aman juga marak di berbagai daerah, seperti di Kalimantan dan Sulawesi. Tanpa pengawasan yang memadai, kecelakaan serupa bisa terjadi kapan saja. Selain itu, rantai pasok batu mulia dari Myanmar ke Indonesia perlu diawasi untuk memastikan tidak mendanai konflik bersenjata.
Ke depannya, pertanyaan besar yang mengemuka adalah: akankah pemerintah Myanmar—yang sedang dilanda perang saudara—mampu menegakkan standar keselamatan tambang? Atau, akankah industri giok yang bernilai miliaran dolar ini terus beroperasi dengan mengorbankan nyawa warga miskin yang hanya ingin bertahan hidup?



