Debutan Cape Verde ke Babak 32 Besar, Hadapi Argentina di Miami
Baca dalam 60 detik
- Cape Verde lolos ke babak 32 besar Piala Dunia setelah bermain imbang 0-0 dengan Arab Saudi, berkat hasil laga lain yang menguntungkan.
- Tim debutan asal Afrika itu akan berhadapan dengan juara bertahan Argentina di Miami, sebuah pertemuan yang tak terduga.
- Keberhasilan ini menjadi pencapaian bersejarah bagi negara berpenduduk sekitar 500.000 jiwa, menunjukkan kejutan besar di turnamen.

Cape Verde, tim debutan yang hanya bermodalkan tiga hasil imbang, memastikan tempat di babak 32 besar Piala Dunia setelah menahan Arab Saudi 0-0 di Houston, Jumat (26/6). Hasil itu, ditambah kemenangan Spanyol 1-0 atas Uruguay, membuat Cape Verde finis di posisi kedua Grup X dengan tiga poin, unggul selisih gol dari Uruguay dan Arab Saudi yang sama-sama mengoleksi dua poin. Kini, mereka dijadwalkan menghadapi juara bertahan Argentina di Miami pada babak selanjutnya.
Kepastian lolos baru diketahui setelah peluit panjang berbunyi. Para pemain dan staf Cape Verde berkerumun di sekitar ponsel, menunggu hasil pertandingan Spanyol versus Uruguay. Begitu skor akhir 1-0 untuk Spanyol dikonfirmasi, ledakan sorak sorai menggema di stadion. Suporter Cape Verde yang setia bergemuruh, memukul drum dan meluapkan euforia sepanjang malam. Banyak pemain bertahan di lapangan setelah sebagian besar penonton pulang, berfoto, membalut diri dengan bendera, dan meresapi momen bersejarah bagi negara yang hanya berpenduduk sekitar 500.000 jiwa.
Pertandingan melawan Arab Saudi sendiri berlangsung alot dan minim kualitas. Cape Verde tampil lebih agresif dan menciptakan sejumlah peluang emas, namun penyelesaian akhir yang buruk membuat mereka gagal mencetak gol. Salah satu peluang terbaik datang dari Laros Duarte yang gagal memanfaatkan situasi satu lawan satu dengan kiper Mohammed Alowais. Arab Saudi, yang hanya mencetak satu gol sepanjang turnamen, tampil tanpa ambisi dan jarang mengancam gawang lawan. Peluang pertama mereka baru tercipta pada injury time babak pertama lewat sundulan Mohamed Kanno yang masih bisa diamankan kiper Cape Verde, Vozinha.
Kisah Vozinha sendiri menarik perhatian. Ibunya baru tiba di Amerika Serikat beberapa hari sebelum pertandingan karena terkendala biaya visa. Ia akhirnya bisa menyaksikan putranya bermain langsung dari tribun. Momen ini menjadi simbol perjuangan dan kebanggaan bagi Cape Verde, negara kepulauan kecil yang berhasil menembus babak gugur Piala Dunia untuk pertama kalinya.
Bagi Indonesia, pencapaian Cape Verde bisa menjadi inspirasi. Timnas Indonesia yang tengah berjuang meningkatkan peringkat FIFA dan kualitas sepak bola nasional bisa belajar dari perjalanan Cape Verde. Meski bukan unggulan, dengan disiplin taktik dan kerja keras, kejutan selalu mungkin terjadi di panggung dunia. Pertanyaan besarnya: mampukah Indonesia suatu hari nanti mengikuti jejak Cape Verde?
Pertemuan Cape Verde melawan Argentina di Miami dipastikan akan menjadi laga yang tak seimbang di atas kertas. Namun, sepak bola seringkali memberikan cerita yang tak terduga. Mampukah Cape Verde kembali membuat kejutan? Atau Argentina akan membuktikan statusnya sebagai juara bertahan? Semua akan terjawab dalam beberapa hari ke depan.



