Lebih dari Sekadar Hantu: Studi 25 Tahun Ungkap Populasi Anjing Amazon Ternyata Melimpah
Baca dalam 60 detik
- Penelitian selama 25 tahun di Amazon mengungkap populasi anjing telinga pendek (Atelocynus microtis) jauh lebih besar dari dugaan, dengan kepadatan mencapai 15 individu per 100 km persegi.
- Spesies yang selama ini dianggap karnivora murni ternyata omnivora oportunistik, memakan 34 jenis makanan termasuk buah dan biji-bijian.
- Meski populasinya lebih besar, deforestasi Amazon tetap menjadi ancaman serius bagi kelangsungan hidup spesies endemik ini.

Setelah lebih dari dua dekade memburu bayang-bayang di hutan Amazon, para ilmuwan akhirnya berhasil menguak tabir misteri salah satu karnivora paling sulit dijumpai di dunia. Anjing telinga pendek (Atelocynus microtis), yang selama ini dijuluki “anjing hantu” karena kemampuannya menghilang dari pandangan, ternyata memiliki populasi yang jauh lebih besar dari perkiraan sebelumnya. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Neotropical Biology and Conservation (2026) mengungkap bahwa kepadatan populasi spesies ini mencapai sekitar 15 individu per 100 kilometer persegi, melampaui kelimpahan relatif jaguar di kawasan yang sama.
Penelitian yang dipimpin Dr. Robert Wallace dari Wildlife Conservation Society (WCS) ini merupakan hasil kerja keras selama 25 tahun. Antara 2001 dan 2024, timnya melakukan 34 survei intensif menggunakan perangkap kamera di wilayah dataran rendah Greater Madidi-Tambopata Landscape yang membentang di Bolivia barat laut dan Peru tenggara, serta Llanos de Moxos Biocultural Landscape di Bolivia utara. Hasilnya, 594 foto individu berhasil didokumentasikan—jumlah yang belum pernah tercapai sebelumnya. Temuan ini diperkuat oleh studi terpisah di Los Amigos Biological Station, Peru, di mana lebih dari 40.000 hari jebak kamera antara 2021 dan 2024 menghasilkan 1.115 deteksi independen, rekor tertinggi untuk spesies ini di satu lokasi.
Salah satu temuan paling mengejutkan adalah koreksi terhadap asumsi habitat spesies ini. Selama bertahun-tahun, jari kaki berselaput membuat para ilmuwan menduga anjing telinga pendek berasosiasi dengan sungai atau rawa. Namun, analisis skala benua justru menunjukkan bahwa hewan ini adalah spesialis hutan lahan tinggi (terra firme) yang menjauhi perairan. “Kecintaan mereka pada habitat lebat, dipadukan dengan indera pendengaran dan penciuman yang sangat tajam, membuat mereka mampu mendeteksi manusia jauh sebelum terlihat,” jelas Wallace. Pola aktivitas diurnal—paling aktif antara pukul 06.00 hingga siang hari—dan sifat soliter yang kuat semakin memperkuat reputasi mereka sebagai hantu Amazon.
Kejutan lain datang dari analisis diet. Studi komprehensif pertama mengidentifikasi setidaknya 34 jenis makanan berbeda dalam menu anjing telinga pendek, mulai dari artropoda, ikan, amfibi, reptil, burung, mamalia kecil, hingga buah-buahan dan biji-bijian. Temuan ini memaksa para peneliti mereklasifikasi spesies yang semula dianggap karnivora murni menjadi omnivora oportunistik. “Mereka memakan apa pun yang tersedia, dari serangga hingga buah,” kata Wallace. Fleksibilitas pangan ini mungkin menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka bertahan di habitat yang terus terancam.
Meski kabar populasi lebih besar memberikan secercah optimisme, ancaman terhadap kelangsungan hidup spesies ini belum mereda. Laju deforestasi dan fragmentasi hutan Amazon yang terus tinggi menjadi momok utama. IUCN saat ini masih mengkategorikan anjing telinga pendek sebagai Near Threatened (Hampir Terancam). “Spesies yang sangat bergantung pada hutan primer yang utuh ini secara alami rentan terhadap hilangnya tutupan hutan,” ujar Wallace. Bagi Indonesia, pelajaran dari Amazon ini relevan mengingat hutan tropis kita juga menyimpan banyak spesies endemik yang belum terpetakan. Upaya konservasi berbasis data jangka panjang, seperti yang dilakukan Wallace, bisa menjadi model untuk mengungkap misteri keanekaragaman hayati di hutan-hutan Sumatra dan Kalimantan.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah temuan ini cukup untuk mendorong perlindungan yang lebih efektif bagi “anjing hantu” Amazon? Atau, seperti halnya banyak spesies langka lainnya, mereka akan tetap menjadi korban dari ambisi ekonomi yang mengorbankan hutan? Hanya komitmen bersama untuk menjaga hutan primer yang bisa menjawabnya.



