Kuburan Paus Terdalam di Dunia Ditemukan di Samudra Hindia, Fosil Berusia 5 Juta Tahun Terungkap
Baca dalam 60 detik
- Tim ilmuwan menemukan 476 bangkai dan fosil paus di Diamantina Fracture Zone, Samudra Hindia, pada kedalaman lebih dari 7.000 meter.
- Fosil tertua berusia 5,3 juta tahun, termasuk spesies baru Pterocetus diamantinae yang mengungkap evolusi paus berparuh.
- Lokasi ini diperkirakan menjadi perangkap biologis alami, dengan kepadatan bangkai mencapai 2.000 individu per km².

Sebuah tim peneliti internasional mengumumkan penemuan kuburan paus terbesar dan terdalam yang pernah tercatat, terletak di lembah bawah laut Samudra Hindia bagian tenggara pada kedalaman lebih dari 7.000 meter. Temuan yang dipublikasikan di jurnal Nature pada 10 Juni 2026 ini mengungkap keberadaan 476 bangkai dan fosil paus yang membentang sepanjang 1.200 kilometer di Diamantina Fracture Zone, sebuah kawasan yang sebelumnya belum banyak dieksplorasi.
Penelitian ini dimulai pada awal 2023 dengan menggunakan kapal selam berawak yang melakukan 32 penyelaman. Meski hanya menyurvei area seluas 0,065 kilometer persegi, para ilmuwan memperkirakan kepadatan sisa-sisa paus di lokasi tersebut bisa mencapai 2.000 individu per kilometer persegi. Angka ini menjadikan Diamantina Fracture Zone sebagai nekropolis cetacea terbesar yang pernah diketahui, melampaui semua temuan serupa di lautan lain.
Fosil tertua yang berhasil diidentifikasi berasal dari paus berparuh jenis Pterocetus benguelae yang hidup sekitar 5,3 juta tahun lalu. Penemuan ini menunjukkan bahwa bangkai paus telah terakumulasi di lokasi tersebut sejak zaman Pliosen awal. Selain itu, tim juga menemukan fosil tengkorak dari spesies baru yang dinamai Pterocetus diamantinae, yang menurut para peneliti membantu melengkapi pemahaman tentang sejarah evolusi kelompok paus berparuh—mamalia laut penyelam terdalam yang diketahui.
Para ilmuwan belum sepenuhnya memahami mengapa Diamantina Fracture Zone menjadi tempat penumpukan bangkai paus dalam skala besar. Beberapa hipotesis diajukan: pertama, kawasan ini berada di jalur migrasi beberapa spesies paus balin, sehingga banyak individu mati secara alami di sepanjang rute tersebut. Kedua, bagi paus penyelam dalam yang memburu mangsa di kedalaman ekstrem, zona ini mungkin mendorong mereka melampaui batas fisiologis. Hipotesis ketiga menyebutkan bahwa bangkai paus tidak selalu mati di titik ini, melainkan terbawa arus ke lokasi tersebut karena topografi lembah yang berbentuk huruf V, mirip dengan perangkap biologis alami.
Faktor pelestarian juga berperan penting. Tulang yang paling banyak dijumpai berasal dari moncong paus berparuh, yang memiliki kepadatan sangat tinggi sehingga lebih tahan terhadap penguraian. Sedimentasi di zona ini sangat lambat, suhu air dingin dan stabil, serta tulang-tulang tersebut terlapisi mineral pelindung yang menghambat kerusakan. Rekor penyelaman terdalam paus berparuh Cuvier mencapai 2.990 meter pada 2014, menunjukkan kemampuan fisiologis yang luar biasa.
Penemuan lain yang signifikan adalah keragaman hayati di sekitar bangkai-bangkai paus. Proses whale fall—ketika bangkai paus menjadi sumber makanan dan habitat bagi organisme laut dalam—menghasilkan ekosistem unik. Di Diamantina Fracture Zone, tim menemukan ubur-ubur, cacing tabung, bintang rapuh, dan cacing pemakan tulang yang hidup di antara fosil maupun bangkai segar. Banyak di antara organisme ini diduga merupakan spesies yang belum pernah dideskripsikan sebelumnya.
Bagi Indonesia, temuan ini memiliki relevansi mengingat Samudra Hindia berbatasan langsung dengan wilayah perairan Indonesia. Penelitian lanjutan di kawasan ini diperkirakan akan menghasilkan data penting tentang keanekaragaman hayati laut dalam dan evolusi mamalia laut, yang dapat memperkaya basis pengetahuan ilmiah regional. Para peneliti menekankan bahwa area yang telah dieksplorasi masih sangat kecil, dan situs ini diperkirakan menyimpan banyak spesies baru serta informasi ekologi yang belum terungkap. Pertanyaan besarnya: seberapa banyak lagi misteri laut dalam yang masih tersembunyi di palung-palung Samudra Hindia?



