Bencana Iklim Tewaskan 58 Orangutan Tapanuli, Populasi Tersisa Kini di Bawah 800 Individu
Baca dalam 60 detik
- Hujan ekstrem November 2025 memicu longsor di Batang Toru yang menghancurkan 8.303 hektar habitat orangutan tapanuli.
- Analisis citra satelit memperkirakan 58 individu tewas, setara 7 persen total populasi spesies kera besar paling langka di dunia.
- Peneliti mendesak moratorium proyek di Batang Toru dan penetapan kawasan sebagai Strategis Nasional untuk mencegah kepunahan.

Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera akhir 2025 lalu tidak hanya menelan ribuan korban jiwa manusia, tetapi juga memangkas populasi orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis) secara signifikan. Sebuah studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Current Biology pada 22 Juni 2026 mengungkapkan bahwa sekitar 58 individu dari spesies kera besar paling langka di dunia itu diperkirakan tewas akibat tanah longsor yang dipicu curah hujan ekstrem.
Penelitian kolaborasi internasional yang melibatkan ilmuwan dari Inggris, Indonesia, Brunei, Belanda, Belgia, Prancis, Malaysia, dan Jerman ini menggunakan citra satelit resolusi tinggi untuk membandingkan tutupan hutan sebelum dan sesudah bencana. Hasilnya, area longsor seluas 8.303 hektar teridentifikasi di Blok Barat Ekosistem Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara โ setara dengan 11,7 persen tutupan hutan di blok tersebut. Analisis spasial menunjukkan bahwa 11 persen populasi orangutan di Blok Barat, atau sekitar 58 individu, berada di zona terdampak langsung.
"Hilangnya sekitar 58 individu ini merupakan kejutan besar bagi kelangsungan hidup populasi orangutan tapanuli. Potensi kematian akibat efek lain seperti kerusakan kanopi dan berkurangnya ketersediaan makanan belum dimasukkan, sehingga perkiraan ini konservatif," tulis Erik Meijaard, peneliti utama dari Inggris, mewakili tim. Bencana ini menjadi pukulan demografis serius mengingat populasi liar yang hanya tersisa kurang dari 800 individu, terfragmentasi di tiga kantong: Blok Barat (~500 individu), Blok Timur (~160 individu), dan Cagar Alam Sibual-Buali (~50 individu). Dua dari tiga subpopulasi itu dinilai belum memenuhi ukuran minimum untuk bertahan jangka panjang.
Panut Hadisiswoyo, Direktur Green Justice Indonesia yang juga menjadi salah satu penulis laporan, menjelaskan bahwa angka 58 individu diperoleh dari analisis luasan habitat rusak dan kepadatan populasi di kawasan terdampak. "Penelitian kami menunjukkan pengurangan sekitar 11 persen populasi di Blok Barat atau sekitar 7 persen dari total populasi orangutan tapanuli," ujarnya. Ia menambahkan bahwa ancaman terhadap spesies ini tidak hanya berasal dari kehilangan habitat, fragmentasi hutan, perburuan, dan konflik dengan manusia, tetapi kini diperparah oleh krisis iklim yang memicu cuaca ekstrem.
Dampak bencana tidak berhenti saat longsor berhenti. Tanah longsor menghancurkan seluruh biomassa dan lapisan tanah, sehingga bekas luka longsor diperkirakan tidak akan menyediakan sumber makanan berarti bagi orangutan setidaknya selama 5โ10 tahun hingga suksesi hutan perintis terjadi. Orangutan yang selamat terpaksa berpindah ke habitat berkualitas rendah โ baik ke dataran rendah yang lebih padat individu maupun ke tempat lebih tinggi dengan makanan lebih langka. Celah kanopi akibat berkurangnya pohon juga memaksa primata arboreal ini turun saat berpindah, meningkatkan energi yang dikeluarkan dan mengurangi waktu makan, yang pada akhirnya dapat mengganggu reproduksi dan meningkatkan kematian.
Para peneliti mendesak pemerintah Indonesia untuk segera menerapkan moratorium kegiatan penggunaan lahan yang menurunkan kualitas habitat tersisa, seperti pertambangan, perkebunan sawit, dan perluasan pembangkit listrik tenaga air di bentang alam Batang Toru. Mereka juga merekomendasikan perluasan kawasan lindung di sekitar Blok Barat dan koridor utama, serta penetapan Ekosistem Batang Toru sebagai Kawasan Strategis Nasional. "Ini akan memberikan dasar hukum yang lebih kuat untuk perlindungan jangka panjang spesies tersebut," tulis mereka. Tanpa tindakan konservasi yang kuat dan mitigasi dampak krisis iklim, masa depan orangutan tapanuli โ spesies yang baru diakui pada 2017 โ akan semakin terancam. Pertanyaannya, apakah Indonesia dan komunitas global mampu bergerak cukup cepat sebelum spesies kera besar pertama di era modern ini punah?



