Pelatih Irak Minta Negeri Seribu Malam Bangga meski Tersingkir dari Piala Dunia 2026
Baca dalam 60 detik
- Irak harus mengakui keunggulan Senegal 5-0 dan tersingkir dari Piala Dunia 2026 setelah hanya meraih satu poin dari tiga laga.
- Pelatih Graham Arnold menilai kartu merah dini dan kesalahan individu menjadi biang kerok kebobolan 12 gol selama turnamen.
- Arnold menyoroti masih rendahnya kualitas kompetisi domestik di Timur Tengah sebagai pekerjaan rumah jangka panjang bagi sepak bola Irak.

Pelatih Timnas Irak, Graham Arnold, meminta publik di negara itu tetap berbangga meskipun langkah timnya terhenti di babak penyisihan grup Piala Dunia 2026 setelah dihajar Senegal 5-0 di Toronto, Jumat (26/6). Menurutnya, kehadiran Irak di panggung terbesar sepak bola dunia sudah merupakan pencapaian monumental yang patut dirayakan.
Arnold menegaskan bahwa anak asuhnya tampil kompetitif dalam dua dari tiga pertandingan fase grup. Satu-satunya kekalahan telak terjadi saat melawan Senegal, yang menurutnya dipicu oleh kartu merah yang diterima pemain Irak pada menit ke-13. “Semua orang di Irak seharusnya bangga bahwa kami bisa lolos ke sini dan tampil sangat baik di dua laga,” ujar Arnold seperti dikutip media setempat.
Meski demikian, Arnold mengakui bahwa timnya kebobolan 12 gol sepanjang turnamen, dan sebagian besar berasal dari kesalahan individu. Ia menilai hal ini menjadi catatan serius yang harus segera dibenahi. “Banyak gol yang kami terima akibat kesalahan sendiri, bukan karena lawan bermain luar biasa,” tambahnya.
Di luar hasil di lapangan, Arnold menyoroti masalah struktural yang lebih dalam. Ia menilai liga-liga di kawasan Timur Tengah masih memiliki banyak pekerjaan rumah dalam hal pengembangan pemain. Menurutnya, tanpa perbaikan sistem pembinaan usia muda dan kualitas kompetisi domestik, sulit bagi Irak untuk bersaing secara konsisten di level tertinggi.
Bagi Indonesia, catatan perjalanan Irak ini menjadi cermin yang relevan. Sama-sama negara dengan basis penggemar fanatik namun infrastruktur sepak bola yang belum matang, kegagalan Irak mempertahankan konsistensi performa akibat kesalahan individu dan lemahnya liga domestik bisa menjadi pelajaran berharga. PSSI dan klub-klub Liga Indonesia perlu memastikan bahwa pembinaan pemain tidak hanya mengandalkan talenta alami, tetapi juga sistem kompetisi yang ketat dan disiplin taktik.
Ke depan, Irak harus memulai persiapan menuju Piala Asia dan kualifikasi Piala Dunia 2030. Pertanyaan besarnya: mampukah federasi dan klub di Irak berbenah sebelum generasi emas berikutnya lahir? Atau akankah cerita serupa terulang lagi?



