Trump Bela Infantino: Pecat Ketua FIFA, Dunia Sepak Bola Rugi Besar
Baca dalam 60 detik
- Presiden AS Donald Trump secara terbuka mendukung Gianni Infantino di tengah desakan sejumlah konfederasi agar ketua FIFA mundur.
- Dukungan itu muncul setelah UEFA, Concacaf, dan AFC menuduh Infantino melanggar kepercayaan melalui rencana bisnis FIFA Forward Enterprise yang gagal.
- Langkah Trump memperkuat posisi Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA 2026, namun memicu perdebatan tentang independensi FIFA.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara tegas membela Gianni Infantino di tengah tekanan yang semakin deras terhadap kepemimpinan ketua FIFA tersebut. Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial, Trump menyebut pemecatan Infantino sebagai "kesalahan besar" yang akan merugikan sepak bola dunia. Dukungan ini datang hanya beberapa pekan setelah Piala Dunia 2026 yang digelar di AS, Kanada, dan Meksiko berakhir sukses, dengan Spanyol keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina di partai final.
Kubu penentang Infantino, yang terdiri dari UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), sebelumnya melayangkan surat terbuka yang menuduh ketua FIFA itu telah menghancurkan kepercayaan melalui "penipuan" dalam rencana bisnis FIFA Forward Enterprise (FFE). Rencana tersebut sejatinya akan membentuk perusahaan baru yang mengelola hak komersial dan tiket seluruh kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, dengan menjual 21 persen sahamnya kepada investor swasta. Namun, usulan itu batal setelah mendapat tentangan luas dari berbagai pihak.
Trump, yang pada 2025 lalu menerima Penghargaan Perdamaian FIFA dari tangan Infantino, menilai bahwa di bawah kepemimpinan Infantino, Piala Dunia 2026 menjadi yang paling sukses sepanjang sejarah, bahkan "empat kali lipat" dari edisi-edisi sebelumnya. "Jika dia pergi, sepak bola tidak akan pernah sehebat dan seuntung ini lagi," tulis Trump. Pernyataan ini jelas menjadi tameng politik yang kuat bagi Infantino, yang selama ini kerap dikritik karena gaya kepemimpinannya yang otoriter dan kontroversial.
Di Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Sebagai negara dengan basis penggemar sepak bola yang besar, Indonesia memiliki kepentingan langsung terhadap arah kebijakan FIFA, terutama terkait pembagian pendapatan dan pengembangan sepak bola di negara berkembang. Jika Infantino berhasil bertahan, program-program seperti FIFA Forward yang selama ini membiayai pembangunan infrastruktur sepak bola di Indonesia dipastikan akan berlanjut. Namun, jika ia jatuh, ada ketidakpastian mengenai kelanjutan program tersebut, yang bisa berdampak pada rencana pembangunan stadion dan fasilitas latihan di Tanah Air.
Para analis sepak bola internasional menilai bahwa dukungan Trump merupakan sinyal kuat bahwa Infantino masih memiliki sekutu politik berpengaruh, terutama dari negara tuan rumah Piala Dunia terakhir. Namun, langkah Trump juga menuai kritik karena dianggap mencampuri urusan internal FIFA. Beberapa pengamat mempertanyakan apakah dukungan tersebut didasari kepentingan bisnis, mengingat Trump dan keluarganya memiliki keterkaitan dengan industri olahraga dan hiburan di AS.
Di sisi lain, surat terbuka dari tiga konfederasi besar menunjukkan bahwa oposisi terhadap Infantino tidak main-main. Mereka menuntut transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar dalam pengelolaan keuangan FIFA. Jika tekanan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin akan ada mosi tidak percaya dalam Kongres FIFA mendatang. Namun, dengan dukungan Trump, Infantino tampaknya akan tetap bertahan setidaknya hingga Piala Dunia 2026 selesai, dan mungkin lebih lama lagi.
Pertanyaan besarnya kini adalah: akankah dukungan Trump cukup untuk meredam kritik internal FIFA? Atau justru sebaliknya, semakin memperuncing konflik antara Infantino dan para petinggi sepak bola Eropa, Amerika Utara, dan Asia? Yang jelas, pertarungan kekuasaan di puncak FIFA ini akan terus menjadi sorotan, dan Indonesia perlu memantau perkembangannya karena setiap keputusan yang diambil akan berdampak pada masa depan sepak bola nasional.



