Serangan Rusia di Ukraina Tewaskan 9 Orang, Kyiv Waspadai Rudal Balistik Korea Utara
Baca dalam 60 detik
- Gempuran Rusia sepanjang malam menewaskan sedikitnya sembilan warga sipil di tiga wilayah Ukraina, termasuk ibu kota Kyiv.
- Peringatan keras muncul dari Kyiv bahwa Moskow telah menerima pasokan rudal balistik baru dari Korea Utara, memperkuat ancaman serangan ke kota-kota besar.
- Krisis pertahanan udara Ukraina kian pelik karena kelangkaan sistem intersepsi PAC-3, sementara Kyiv terus membalas dengan serangan ke wilayah Rusia.

Gempuran rudal dan drone Rusia sepanjang malam meluluhlantakkan sejumlah kota di Ukraina, menewaskan sedikitnya sembilan warga sipil dan melukai puluhan lainnya. Serangan yang berlangsung Selasa (11/8) itu terjadi di tengah peringatan keras dari Presiden Volodymyr Zelenskyy bahwa Moskow telah menerima kiriman rudal balistik baru dari Korea Utara, menandakan eskalasi yang belum mereda setelah hampir tiga tahun invasi.
Otoritas regional melaporkan serangan menyasar Kyiv, Zaporizhzhia, dan Dnipropetrovsk. Di Zaporizhzhia, kepala administrasi militer setempat, Ivan Fedorov, menyebut serangan itu "masif" dengan kombinasi rudal dan bom udara berpemandu. Enam orang tewas dan 19 lainnya luka-luka di wilayah tersebut, angka yang diperbarui dari laporan awal lima korban jiwa. Sementara itu, di Dnipropetrovsk, serangan drone dan artileri yang menghantam lima distrik menewaskan tiga orang dan melukai lima lainnya, menurut Oleksandr Ganzha, pejabat militer regional.
Di ibu kota Kyiv, ledakan terdengar tak lama setelah tengah malam ketika sirene peringatan rudal berbunyi. Wali Kota Vitali Klitschko mengonfirmasi bahwa kota sedang "di bawah serangan rudal balistik". Layanan darurat Ukraina melaporkan kebakaran di sebuah gudang dan satu warga terluka. Kementerian Pertahanan Rusia membenarkan serangan itu, menyebutnya sebagai "serangan kelompok dengan senjata presisi tinggi" yang menargetkan perusahaan industri militer dan pusat logistik transportasi di Kyiv dan Zaporizhzhia.
Serangan ini terjadi di tengah kekhawatiran yang meluas tentang kemampuan pertahanan udara Ukraina. Hanya sistem tertentu, seperti Patriot buatan AS, yang mampu mencegat rudal balistik. Namun, kelangkaan intersepsi PAC-3 telah memburuk sejak perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu. Kondisi ini membuat Ukraina semakin rentan terhadap serangan rudal balistik yang diluncurkan Rusia dari jarak jauh.
Di sisi lain, Ukraina tidak tinggal diam. Dalam beberapa pekan terakhir, Kyiv meningkatkan serangan ke kota-kota Rusia yang jauh dari perbatasan, mencoba membawa perang ke jantung negeri lawan. Namun, eskalasi ini juga memicu kekhawatiran akan pembalasan yang lebih brutal, terutama dengan dukungan militer Korea Utara yang semakin nyata. Zelenskyy sebelumnya menyatakan bahwa Rusia tidak hanya menerima rudal, tetapi juga menyiapkan penempatan lebih banyak pasukan Korea Utara di medan perang.
Bagi Indonesia, konflik ini mengirim sinyal penting tentang ketidakstabilan global yang berdampak pada harga energi dan pangan. Sebagai negara yang bergantung pada impor gandum dan energi, setiap gejolak di kawasan Laut Hitam berpotensi memicu lonjakan harga di pasar domestik. Lebih jauh, meningkatnya peran Korea Utara dalam konflik ini menambah kompleksitas dinamika keamanan di Indo-Pasifik, yang juga menjadi perhatian Indonesia dalam forum-forum regional seperti ASEAN.
Para analis militer menilai bahwa tanpa solusi atas kelangkaan sistem intersepsi, Ukraina akan terus menghadapi ancaman rudal balistik yang sulit ditangkal. Sementara itu, Rusia tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda melunak, bahkan dengan biaya politik dan ekonomi yang semakin tinggi. Pertanyaannya, mampukah Ukraina bertahan dengan dukungan Barat yang mulai terfragmentasi, atau akankah eskalasi ini memaksa lahirnya negosiasi baru yang selama ini mandek?



