Philip Doyle, Arsitek Grand Slam Rugbi Putri Irlandia, Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Philip Doyle, pelatih yang membawa tim rugbi putri Irlandia meraih Grand Slam Six Nations 2013, meninggal dunia di usia 61 tahun.
- Di bawah asuhannya, Irlandia juga mencatat kemenangan bersejarah atas Selandia Baru di Piala Dunia 2014 dan finis keempat.
- Doyle dikenang sebagai tokoh paling berpengaruh dalam sejarah rugbi putri Irlandia, dengan warisan yang melampaui prestasi di lapangan.

Philip Doyle, pelatih kepala yang membawa tim rugbi putri Irlandia meraih Grand Slam Six Nations perdana pada 2013, meninggal dunia pada usia 61 tahun. Kabar duka ini disampaikan oleh Blackrock College, klub tempat Doyle pernah mengabdi, yang menyebutnya sebagai "pelatih paling berpengaruh dalam sejarah rugbi putri".
Doyle menjalani dua periode sebagai pelatih Irlandia. Pertama kali ditunjuk pada 2003 menggantikan Kevin West, ia memimpin selama tiga tahun sebelum kembali pada 2010. Pada periode keduanya, ia membawa transformasi luar biasa: dari tim yang kerap finis kelima atau keenam di Six Nations menjadi juara. Puncaknya terjadi pada 2013 ketika Irlandia menyapu bersih semua pertandingan dan merebut Grand Slam tepat pada Hari St. Patrick.
Setahun kemudian, pada 5 Agustus 2014, Doyle memimpin Irlandia mengalahkan juara bertahan Selandia Baru (Black Ferns) di babak penyisihan Piala Dunia Rugbi Putri di pinggiran Paris. Kemenangan itu dianggap sebagai salah satu yang terbesar dalam sejarah tim dan mengeliminasi Black Ferns dari turnamen. Irlandia akhirnya finis di peringkat keempat, pencapaian terbaik mereka di Piala Dunia.
Setelah meninggalkan Irlandia usai Piala Dunia 2014, Doyle sempat menangani tim putri Skotlandia pada 2019, namun mundur setahun kemudian karena tantangan pandemi Covid-19. Ia juga pernah melatih tim putri Blackrock College dan Ulster Rugby. Sepanjang kariernya, Doyle dikenal sebagai sosok yang peduli dan inspiratif. Blackrock College mengenangnya bukan hanya karena daftar prestasi, tetapi sebagai mentor, teman, dan pendongeng yang selalu memberi semangat.
"Dia sangat peduli dengan orang-orang yang dilatihnya. Dia memberi kepercayaan diri, menantang mereka untuk menjadi lebih baik, dan mengingatkan semua orang mengapa rugbi adalah olahraga yang istimewa," tulis Blackrock College dalam pernyataan resmi.
Bagi Indonesia, kisah Doyle menyoroti bagaimana seorang pelatih dapat mengubah budaya tim dan membangun fondasi kesuksesan jangka panjang. Dalam konteks perkembangan rugbi putri di Tanah Air yang masih bertumbuh, dedikasi Doyle menjadi contoh bahwa investasi pada pelatih yang visioner dan peduli dapat membawa hasil di luar ekspektasi. Federasi Rugbi Indonesia (Pengurus Besar Persatuan Rugby Union Indonesia) dapat memetik pelajaran dari pendekatan Doyle yang mengedepankan pembinaan karakter dan kepercayaan diri pemain.
Warisan Doyle tidak hanya terletak pada trofi, tetapi pada semangat yang ia tanamkan. Ia selalu menjawab telepon, memberi wawancara, atau sekadar nasihat. Kini, rugbi putri Irlandia kehilangan salah satu pionir terbesarnya. Pertanyaan yang tersisa: akankah ada penerus yang mampu mengulang keajaiban yang pernah ia ciptakan?



