Gelombang Cedera Landa Petenis Top: Jack Draper Peringatkan Krisis di Tenis Putra
Baca dalam 60 detik
- Jack Draper menyebut banyaknya cedera pemain tenis papan atas sebagai kondisi yang mengkhawatirkan, dengan dirinya sendiri turun ke peringkat 160 setelah hanya bermain 15 laga dalam setahun.
- Turnamen ATP Masters yang diperpanjang menjadi 12 hari dinilai sebagai salah satu pemicu utama kelelahan fisik, membuat pemain seperti Alcaraz, Musetti, dan Fils harus absen di Wimbledon.
- Draper menggandeng Andy Murray sebagai mentor untuk mengelola tekanan dan cedera, menandai tren baru petenis yang mencari bimbingan legenda untuk memperpanjang karier.

Jack Draper, petenis Inggris yang pernah duduk di peringkat empat dunia, menilai kondisi tenis putra saat ini memasuki fase kritis akibat gelombang cedera yang melanda para pemain top. Menjelang comeback Grand Slam-nya di Wimbledon, Draper mengingatkan bahwa tuntutan fisik turnamen yang kian berat telah membuat banyak bintang harus menepi.
Draper sendiri menjadi contoh nyata: hanya bermain 15 pertandingan dalam setahun terakhir karena cedera tulang di lengan servis dan tendinitis di lutut, ia terlempar ke peringkat 160 dunia. Pemain berusia 24 tahun itu melewatkan Australian Open dan French Open tahun ini, serta mundur dari US Open tahun lalu sebelum babak kedua. Meski demikian, ia berhasil mencapai semifinal Eastbourne pekan lalu sebagai sinyal kebangkitan.
Yang lebih mengkhawatirkan, nama-nama besar seperti Carlos Alcaraz (tujuh gelar Grand Slam) absen di Wimbledon karena cedera pergelangan tangan. Lorenzo Musetti, semifinalis Wimbledon 2024, juga tak tampil. Arthur Fils, petenis muda Prancis berbakat, disebut Draper kerap terhambat cedera akibat beban kerja berlebih. Beberapa pemain lain seperti Taylor Fritz, Joao Fonseca, dan Rafael Jodar memilih mundur dari turnamen pemanasan Wimbledon demi menjaga kondisi tubuh.
Draper secara spesifik menyoroti format turnamen ATP Masters yang kini berlangsung 12 hari, lebih panjang dari sebelumnya. Ia menyebut turnamen 'mini Grand Slam' ini sebagai salah satu akar masalah. "Saya pikir turnamen akan sangat menderita jika tidak ada perubahan besar," ujarnya. "Atlet semakin baik, memukul bola lebih keras, bergerak lebih cepat, tetapi tubuh mereka tidak dirancang untuk beban tanpa henti. Kami perlu benar-benar mengevaluasi apa yang terjadi di tur."
Kekhawatiran Draper sejalan dengan diskusi yang lebih luas di kalangan petenis dan pengamat. Musim tenis profesional nyaris tanpa jeda, dengan turnamen bergulir sepanjang tahun. Pertandingan lima set di Grand Slam, permainan yang semakin fisik, serta perjalanan antar benua membuat risiko cedera semakin tinggi. Beberapa pihak menyerukan perlunya kalender yang lebih ramah pemain, termasuk pengurangan jumlah turnamen wajib dan perpanjangan masa istirahat.
Di tengah tekanan itu, Draper menemukan sosok mentor yang tepat: Andy Murray, mantan petenis nomor satu dunia dan dua kali juara Wimbledon. Sejak Mei lalu, Murray resmi bergabung dalam tim kepelatihan Draper untuk musim lapangan rumput. Murray menginginkan kerja sama jangka panjang, dan Draper pun merasakan manfaatnya. "Kehadirannya sangat membantu kepercayaan diri saya. Ini bukan periode yang mudah, tapi dia membimbing saya kembali ke lapangan dan kompetisi. Ini baru awal, dan saya yakin akan menjadi kemitraan yang hebat," kata Draper.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Tenis tanah air yang tengah berkembang, dengan pemain seperti Justin Barki dan Christopher Rungkat, perlu mengantisipasi beban fisik yang berlebihan sejak dini. Federasi Tenis Indonesia (Pelti) dapat mengambil contoh dari sistem manajemen cedera dan periodisasi latihan yang diterapkan di tur internasional. Tanpa perlindungan yang memadai, bibit unggul pun bisa padam sebelum mencapai puncak.
Draper akan menghadapi unggulan keenam asal Amerika Serikat, Taylor Fritz, di babak pertama Wimbledonโsebuah ujian berat bagi kondisi fisiknya. Pertandingan lima set akan menjadi indikator sejauh mana ia pulih. Namun, terlepas dari hasil Draper, pertanyaan besarnya tetap menggantung: akankah otoritas tenis dunia, termasuk ATP dan ITF, mendengarkan seruan para pemain dan mereformasi kalender sebelum lebih banyak bintang tumbang?



