Serie A Kirim 66 Pemain ke Piala Dunia 2026, Italia Justru Absen Lagi
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 66 pemain Serie A akan tampil di Piala Dunia 2026, menjadikan liga Italia sebagai salah satu kontributor pemain terbesar meski timnas Italia gagal lolos.
- Tiga pelatih asal Italia—Carlo Ancelotti, Vincenzo Montella, dan Fabio Cannavaro—memimpin tim nasional berbeda di turnamen tersebut.
- Krisis regenerasi senior menjadi akar masalah, sementara prestasi tim muda Italia seperti juara Piala Eropa U17 menunjukkan potensi yang belum tersalurkan.

Untuk ketiga kalinya secara beruntun, Italia harus menyaksikan Piala Dunia dari layar kaca. Namun, di balik kegagalan tim nasional, Serie A tetap menjadi mesin pemasok pemain terbesar: 66 penggawa dari kasta tertinggi sepak bola Italia akan berlaga di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada pada 2026.
Angka itu menempatkan Serie A sebagai salah satu liga dengan kontribusi pemain terbanyak di turnamen, melampaui banyak kompetisi elite Eropa lainnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa daya tarik sepak bola Italia sebagai industri masih kokoh, meski prestasi Gli Azzurri di level senior terus merosot sejak terakhir tampil di Piala Dunia 2014.
Tak hanya pemain, tiga pelatih asal Italia juga akan memimpin tim nasional berbeda: Carlo Ancelotti (Brasil), Vincenzo Montella (Turki), dan Fabio Cannavaro (Uzbekistan). Kehadiran mereka menegaskan bahwa keahlian taktik Italia masih diakui secara global, sekaligus menjadi ironi karena tidak satu pun dari mereka menukangi negaranya sendiri.
Di luar statistik, migrasi pemain Italia ke luar negeri juga mencatatkan kisah sukses. Gianluigi Donnarumma mengangkat trofi Liga Champions 2024/25 bersama Paris Saint-Germain sebelum pindah ke Manchester City. Riccardo Calafiori menjadi bagian dari sejarah Arsenal yang merebut gelar Premier League setelah 22 tahun. Sementara Giovanni Leoni, meski cedera parah pada debutnya di Liverpool, tetap menjadi bukti bahwa bakat Italia diminati klub-klub top Eropa.
Namun, kontras dengan prestasi individu dan level klub, tim senior Italia justru mengalami kebuntuan. Pelatih sementara Silvio Baldini, yang memimpin dua laga uji coba melawan Luksemburg dan Yunani pada Juni lalu, memanggil 19 debutan dari 24 pemain dalam skuadnya. Ia mengakui bahwa transisi dari level U-21 ke tim senior selama ini menjadi hambatan utama. “Masalahnya selalu pada langkah dari U-21 ke tim senior. Saya yakin langkah itu kini lebih landai setelah penampilan mereka,” ujar Baldini, yang diperkirakan akan kembali menangani U-21 pada September setelah FIGC menunjuk pelatih kepala baru.
Bagi Indonesia, kegagalan Italia dan dominasi Serie A di Piala Dunia bisa menjadi pelajaran berharga. Sepak bola Indonesia kerap menghadapi masalah serupa: pembinaan usia muda yang belum terintegrasi dengan kebutuhan tim senior. Keberhasilan Italia di level U-17—merebut gelar juara Eropa musim panas ini—menunjukkan bahwa bakat muda ada, tetapi tanpa jembatan yang tepat, potensi itu bisa hilang begitu saja. Serie A membuktikan bahwa kompetisi domestik yang kuat bisa menjadi etalase global, meski tim nasional tengah terpuruk.
Pertanyaan besarnya: akankah FIGC mampu memutus rantai kegagalan ini sebelum Piala Dunia 2030? Atau Italia akan kembali menjadi penonton, sementara Serie A terus menjadi panggung bagi pemain asing?



