Piala Dunia 2026: Prancis dan Messi Mendominasi, Kejutan Cape Verde Warnai Fase Grup
Baca dalam 60 detik
- Prancis menjadi satu-satunya tim dengan rekor sempurna tiga kemenangan di fase grup, didorong performa gemilang Kylian Mbappe dan Michael Olise.
- Lionel Messi mencetak enam gol dalam tiga laga, mendekati rekor 13 gol Just Fontaine, sementara Argentina belum kebobolan.
- Cape Verde menjadi cerita underdog paling menarik: debutan yang lolos ke 32 besar setelah menahan imbang Spanyol dan Uruguay.

Fase grup Piala Dunia 2026 telah usai, menyisakan 32 tim dari 48 peserta awal setelah 72 pertandingan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dari deretan laga yang berlangsung selama dua pekan terakhir, beberapa tim dan pemain muncul sebagai favorit, sementara kejutan dari tim debutan ikut mewarnai panggung sepak bola terbesar dunia.
Prancis menjadi tim yang paling menonjol di mata para pengamat BBC yang meliput langsung turnamen ini. Les Bleus menyapu bersih tiga laga grup mereka—kemenangan atas Senegal, Irak, dan lawan lainnya—untuk pertama kalinya sejak edisi 1998 saat mereka menjadi juara. Pelatih Didier Deschamps, yang membidik final ketiga berturut-turut, dianggap memiliki skuad paling dalam dengan lini depan mengerikan: Kylian Mbappe, Michael Olise, Ousmane Dembele, ditambah opsi seperti Desire Doue atau Bradley Barcola. "Mereka tim paling berbahaya di turnamen ini," tulis Phil McNulty, kepala penulis olahraga BBC.
Namun, Spanyol masih dianggap sebagai ancaman serius. Meski belum tampil maksimal, La Roja menyimpan potensi besar dengan kembalinya Lamine Yamal dan Nico Williams dari cedera. Jika keduanya pulih penuh, duel semi-final melawan Prancis bisa menjadi laga penentu. Sementara Argentina, sang juara bertahan, juga tampil solid dengan tiga kemenangan tanpa kebobolan dan lima gol—semuanya berkat orkestrasi Lionel Messi yang agung.
Performa individu menjadi sorotan utama. Messi, yang kini berusia 39 tahun, tetap menjadi pusat perhatian dengan enam gol dalam tiga pertandingan—termasuk hat-trick pertamanya di Piala Dunia saat Argentina mengalahkan Aljazair 3-0. Ia kini hanya berjarak tujuh gol dari rekor sepanjang masa Just Fontaine. "Dia jenius sepak bola yang abadi," ujar McNulty. Namun, jurnalis BBC lainnya juga memuji gelandang muda Maroko, Ayyoub Bouaddi (18 tahun), yang disebut mengingatkan pada Patrick Vieira, serta Michael Olise yang menjadi motor serangan Prancis dengan dua assist dan satu penampilan man of the match.
Di sisi lain, cerita underdog terbesar datang dari Cape Verde. Tim debutan ini sukses melaju ke babak 32 besar setelah menahan imbang Spanyol di laga perdana dan Uruguay 2-2 dalam pertandingan dramatis. Kiper veteran Vozinha, 40 tahun, menjadi pahlawan dengan tujuh penyelamatan gemilang saat melawan Spanyol. "Cape Verde bermain dengan kualitas, emosi, dan perlawanan," tulis Alex Howell, reporter Inggris BBC. Momen perayaan gol pertama DR Congo di Piala Dunia setelah 52 tahun juga tak kalah mengharukan: Yoane Wissa mencetak gol dan merayakannya dengan tarian 'fimbu' khas Afrika.
Bagi Indonesia, Piala Dunia 2026 menyajikan tontonan yang kaya akan variasi taktik dan semangat sepak bola global. Meski tidak ada wakil Asia Tenggara, performa tim-tim seperti Jepang yang nyaris mengalahkan Belanda (2-2) atau kiprah Cape Verde bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola nasional. Momentum kebangkitan tim-tim kecil ini mengingatkan bahwa Piala Dunia bukan hanya milik negara-negara besar.
Ke depan, babak gugur akan menjadi ujian sesungguhnya. Prancis dan Argentina sama-sama difavoritkan melaju jauh, namun Spanyol yang perlahan menemukan ritme bisa menjadi batu sandungan. Pertanyaan besarnya: akankah Messi mampu memecahkan rekor gol Fontaine dan membawa Argentina mempertahankan gelar? Atau justru Mbappe dan generasi emas Prancis yang akan menorehkan sejarah baru?



