Gempa 5,8 Guncang Chiba Jepang, Getaran Terasa Hingga Tokyo
Baca dalam 60 detik
- Gempa berkekuatan 5,8 magnitudo melanda Prefektur Chiba, Jepang, Jumat siang, tanpa disertai peringatan tsunami.
- Getaran kuat dirasakan di Tokyo dan sekitarnya, menjadikannya gempa kedua dalam waktu kurang dari satu jam setelah gempa 4,1 magnitudo di Ibaraki.
- Kejadian ini mengingatkan Indonesia akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi gempa, mengingat posisi geologis yang sama-sama rawan.

Gempa bumi berkekuatan 5,8 magnitudo mengguncang Prefektur Chiba, Jepang, pada Jumat (26/6) siang, memicu getaran kuat yang terasa hingga Tokyo. Badan Meteorologi Jepang memastikan tidak ada peringatan tsunami pascagempa tersebut.
Berdasarkan laporan badan meteorologi setempat, gempa terjadi pada pukul 12.46 waktu setempat dengan pusat gempa berada di kedalaman sekitar 50 kilometer. Skala intensitas seismik Jepang mencatat level 4 dari maksimal 7 di wilayah terdampak paling parah, yaitu Prefektur Ibaraki dan Chiba. Getaran dilaporkan terasa jelas di Tokyo, termasuk di gedung-gedung tinggi dan kawasan permukiman.
Menariknya, gempa ini merupakan yang kedua dalam rentang waktu kurang dari satu jam. Sebelumnya, pada pukul 11.49, gempa berkekuatan 4,1 magnitudo melanda selatan Prefektur Ibaraki, dengan guncangan yang juga terasa di ibu kota. Fenomena gempa beruntun seperti ini kerap menjadi perhatian para ahli karena dapat memicu aktivitas seismik lanjutan.
Jepang, yang berada di Cincin Api Pasifik, memang menjadi salah satu negara paling rawan gempa di dunia. Sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan gempa yang canggih menjadi kunci minimnya korban jiwa dalam peristiwa serupa. Meski demikian, gempa dengan intensitas 4 pada skala Jepang masih berpotensi menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan tua dan barang-barang di dalam rumah.
Bagi Indonesia, berita ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana. Sebagai sesama negara yang terletak di Cincin Api, Indonesia menghadapi ancaman gempa yang tak kalah besar. Pengalaman Jepang dalam membangun budaya sadar bencana dan sistem peringatan dini yang efektif dapat menjadi referensi berharga. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Indonesia secara rutin mengkampanyekan kesiapsiagaan gempa, terutama di daerah rawan seperti Jawa, Sumatera, dan Sulawesi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah gempa susulan masih akan terjadi dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat di wilayah Tokyo dan sekitarnya diimbau tetap waspada, meskipun otoritas Jepang belum mengeluarkan peringatan khusus. Peristiwa ini juga menegaskan kembali bahwa teknologi dan kesiapan masyarakat adalah tameng paling efektif dalam menghadapi kekuatan alam yang tak terduga.



