Gempa Magnitudo 3,4 Guncang Bitung, Pusat di Laut Tak Berpotensi Tsunami
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat gempa bumi magnitudo 3,4 terjadi di timur laut Bitung, Sulawesi Utara, pada Senin siang.
- Episenter gempa berada di laut dengan kedalaman 18 kilometer, dan getarannya dirasakan di wilayah Tahuna, Kepulauan Sangihe.
- BMKG mengingatkan data awal gempa bersifat sementara dan dapat berubah seiring kelengkapan informasi dari stasiun pemantau.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,4 mengguncang wilayah Bitung, Sulawesi Utara, pada Senin (29/6/2026) siang, tanpa menimbulkan potensi tsunami. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berada di laut, sekitar 139 kilometer timur laut Tahuna, Kepulauan Sangihe.
Berdasarkan rilis resmi BMKG, gempa terjadi pukul 11:31:57 WIB dengan episenter terletak di koordinat 1,67 Lintang Utara dan 126,36 Bujur Timur. Kedalaman gempa tercatat dangkal, hanya 18 kilometer di bawah permukaan laut. Meski kekuatannya relatif kecil, getaran sempat dirasakan oleh sebagian warga di pesisir timur Sulawesi Utara.
BMKG menyatakan bahwa data yang dirilis merupakan hasil pengolahan cepat dan masih dapat berubah seiring bertambahnya data dari stasiun seismograf. "Informasi ini mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan data belum stabil dan bisa berubah seiring kelengkapan data," tulis BMKG dalam pernyataan resmi yang diunggah di akun media sosialnya.
Wilayah Sulawesi Utara memang dikenal sebagai kawasan rawan gempa karena berada di jalur pertemuan lempeng tektonik aktif. Catatan BMKG menunjukkan bahwa dalam sepekan terakhir, setidaknya terjadi dua kali gempa dengan magnitudo di atas 3 di sekitar Kepulauan Sangihe dan Bitung. Gempa serupa dengan magnitudo 5,1 sebelumnya mengguncang Tahuna pada hari yang sama, menunjukkan peningkatan aktivitas seismik di zona tersebut.
Menurut analisis seismolog, gempa dangkal seperti ini umumnya tidak menimbulkan kerusakan berarti jika magnitudonya di bawah 5. Namun, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang mungkin terjadi. "Kami mengingatkan warga untuk tidak panik, tetapi selalu siap siaga mengikuti protokol keselamatan gempa bumi," ujar seorang petugas BMKG dalam keterangan terpisah.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah rawan gempa, kejadian ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana. Pemerintah daerah bersama BMKG terus menggencarkan sosialisasi jalur evakuasi dan titik aman, terutama di kawasan pesisir yang rentan terhadap tsunami. Gempa kecil seperti ini juga menjadi data berharga untuk memetakan pola seismik jangka panjang di Sulawesi Utara.
Ke depan, aktivitas gempa di wilayah ini masih perlu dipantau secara intensif. Apakah rangkaian gempa yang terjadi dalam waktu berdekatan ini merupakan pertanda akan adanya gempa yang lebih besar? BMKG belum dapat memastikan, namun mengimbau masyarakat untuk selalu mengacu pada informasi resmi dan tidak mudah percaya pada isu yang tidak bertanggung jawab.



