Beng Hiang, Legenda Hokkien Berusia 48 Tahun, Kini Bersarang di Shangri-La Singapura
Baca dalam 60 detik
- Restoran Hokkien legendaris Beng Hiang yang tutup tahun lalu di Jurong, kini buka kembali di Shangri-La Singapura sebagai residensi kuliner.
- Menu andalan seperti Hokkien Mie, Kong Bak Bao, dan Sup Gelembung Ikan tetap dipertahankan, dengan harga naik 10-20%.
- Kolaborasi ini terwujud karena Beng Hiang adalah restoran favorit pendiri Shangri-La, Robert Kuok.

Setelah menutup gerai utamanya di Jurong East tahun lalu, restoran Hokkien legendaris Beng Hiang kembali bangkit dengan lokasi yang tak terduga: Shangri-La Singapura. Langkah ini menandai transformasi besar bagi restoran berusia 48 tahun yang sebelumnya identik dengan suasana sederhana dan khas warung, kini menyajikan hidangan tradisional di lingkungan hotel mewah.
Beng Hiang, yang pertama kali berdiri di Murray Street pada 1978, telah menjadi ikon kuliner Hokkien di Singapura. Pindah ke Amoy Street pada 1980-an, restoran ini menjadi tempat favorit untuk acara keluarga. Pada 2015, Beng Hiang pindah ke Jurong East sebelum akhirnya tutup. Kini, residensi kuliner di Shangri-La Singapura menghidupkan kembali warisan tersebut, dengan kapasitas 80 kursi di Garden Terrace, ruang indoor-outdoor hotel.
Meski keluarga pendiri tidak lagi terlibat langsung dalam operasional sehari-hari, mereka tetap memberikan arahan. Tim dapur dan manajemen kini dipegang oleh anggota lama, termasuk manajer F&B Tony Leong dan sous chef Tan Peng Chiew. Lebih dari 10 staf dari Jurong East bergabung kembali. Tan, yang digembleng langsung oleh pendiri, kini mengawasi hidangan ikonik yang membangun reputasi Beng Hiang.
Menu andalan seperti Beng Hiang Seafood Hokkien Noodle (S$22), Superior Crab Meat and Fish Maw Broth (S$20 per orang), dan Crispy Oyster Omelette (S$25) tetap tersedia. Hidangan baru seperti Tea-Smoked Crispy Chicken (S$30) dan Fujian-style Steamed Mud Crab with Glutinous Rice (S$138) juga diperkenalkan. Harga naik 10-20% dibandingkan lokasi sebelumnya, menurut perwakilan Shangri-La.
Kolaborasi ini lahir dari hubungan pribadi: Beng Hiang adalah restoran favorit pendiri Shangri-La Group, Robert Kuok. Grup tersebut telah mengakuisisi Beng Hiang pada 2015. Shangri-La Singapura menegaskan bahwa tujuan mereka bukan mengubah identitas Beng Hiang, melainkan melestarikan warisan kulinernya agar relevan bagi generasi baru. "Keputusan membawa Beng Hiang ke Shangri-La bukan tentang mengubah identitasnya, tetapi tentang melestarikan dan merayakan warisan kulinernya," ujar perwakilan hotel.
Bagi pencinta kuliner Indonesia, kisah Beng Hiang menjadi contoh bagaimana restoran warisan dapat bertahan dan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Di tengah maraknya restoran modern, langkah Beng Hiang menunjukkan bahwa kolaborasi dengan hotel mewah bisa menjadi strategi revitalisasi. Pertanyaannya, akankah restoran serupa di Indonesia, seperti yang menyajikan masakan Padang atau Jawa, berani mengambil langkah serupa?



