Kanada Bangkit dari Bayang-Bayang: Pahlawan Baru Sepak Bola di Negeri Hockey
Baca dalam 60 detik
- Kanada untuk pertama kalinya lolos ke babak 16 besar Piala Dunia setelah mengalahkan Afrika Selatan berkat gol Stephen Eustaquio di masa injury time.
- Pelatih Jesse Marsch menyebut timnya 'pahlawan Kanada' dan menegaskan kemenangan ini akan mengubah masa depan sepak bola di negara yang selama ini didominasi hoki es.
- Sebagai tuan rumah bersama yang kurang mendapat sorotan, Kanada justru membuktikan diri dengan performa impresif dan dukungan fan yang luar biasa, termasuk saat bermain di Los Angeles.

Kanada akhirnya mencatatkan namanya dalam sejarah Piala Dunia setelah untuk pertama kalinya melaju ke babak 16 besar, Minggu (25/6) waktu setempat. Gol Stephen Eustaquio di masa injury time memastikan kemenangan 1-0 atas Afrika Selatan, sekaligus mengukuhkan status Kanada sebagai tim yang layak diperhitungkan di turnamen sepak bola terbesar dunia.
Pelatih Jesse Marsch, yang dikenal dengan gaya komunikasi bombastisnya, langsung mengumpulkan seluruh pemain dan staf di tengah lapangan setelah peluit panjang berbunyi. "Kalian adalah pahlawan Kanada," serunya, seperti dilansir BBC Sport. "Masa depan olahraga ini di negara ini sangat besar karena kalian." Meski terkesan hiperbolis, pernyataan Marsch kali ini sulit dibantah. Sepak bola di Kanada tengah mengalami transformasi yang nyata.
Selama ini Kanada kerap dianggap sebagai "tuan rumah yang terlupakan" dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026 bersama Meksiko dan Amerika Serikat. Meksiko membuka turnamen, AS menjadi tuan rumah final, sementara Kanada hanya mendapat sedikit sorotan. Namun, di balik ketenangan itu, Kanada justru membangun basis penggemar yang solid dan antusiasme yang meledak-ledak. Ribuan suporter berbaju merah-putih memenuhi fan zone di Toronto dan kota-kota lain, bahkan ribuan lainnya rela terbang ke Los Angeles untuk mendukung tim mereka.
Kapten Kanada, Alphonso Davies, yang terbiasa bermain di depan puluhan ribu penonton bersama Bayern Munich, mengaku terharu melihat perubahan ini. "Saya menangis melihat begitu banyak orang Kanada datang ke pertandingan. Ini surreal," ujarnya sebelum laga melawan Afrika Selatan. Davies juga mencatat bahwa istilah 'football' mulai menggantikan 'soccer' di kalangan masyarakat Kanada โ sebuah indikasi bahwa olahraga ini mulai diterima sebagai bagian dari identitas nasional.
Marsch, yang sebelumnya gagal di Leeds United dan sempat ditolak oleh federasi AS, kini menjadi pahlawan bagi Kanada. Dalam dua tahun masa kepelatihannya, ia berhasil membangun tim yang kompak, bermental baja, dan mampu bersaing di level tertinggi. "Saya ingin menyampaikan betapa pentingnya momen ini bagi olahraga di negara ini," kata Marsch. "Sayang kami tidak bisa melakukannya di Vancouver, di depan fans kami, tetapi Anda bisa melihat karakter, kualitas, mentalitas, dan kebersamaan tim."
Keberhasilan Kanada ini menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara yang sepak bolanya belum menjadi olahraga utama. Di Indonesia, di mana sepak bola telah mengakar kuat namun masih menghadapi berbagai tantangan โ mulai dari infrastruktur hingga manajemen โ kisah Kanada menunjukkan bahwa transformasi bisa dimulai dari prestasi tim nasional dan dukungan suporter yang konsisten. Seperti yang diungkapkan penggemar Kanada, Harry, "Saya ingat tahun 1990-an, suporter Kanada justru minoritas di kandang sendiri. Sekarang luar biasa melihat ribuan orang datang ke AS untuk mendukung kami."
Langkah Kanada selanjutnya tidak akan mudah. Mereka akan berhadapan dengan Belanda atau Maroko โ dua raksasa sepak bola dunia. Namun, Marsch optimistis. "Ini seperti free hit. Kami akan menyerang dan melakukan apa pun untuk menang," ujarnya. Terlepas dari hasil akhir, satu hal sudah pasti: sepak bola di Kanada tidak akan pernah sama lagi. Pertanyaannya, apakah momentum ini bisa dipertahankan dan diperluas ke kota-kota di luar pusat utama seperti Toronto? Ataukah ini hanya kilasan sesaat yang akan meredup begitu turnamen usai?



