Kecelakaan Pesawat Terjun Payung di Prancis Tewaskan 11 Orang, Termasuk Sekelompok Perawat
Baca dalam 60 detik
- Sebuah pesawat ringan Pilatus PC-6 jatuh di Tomblaine, Prancis timur, menewaskan seluruh 11 penumpang termasuk pilot, instruktur, dan perawat yang sedang melakukan lompatan tandem.
- Kecelakaan ini merupakan yang terparah dalam sejarah penerbangan umum Prancis, dengan penyelidikan teknis tengah dilakukan untuk mengungkap penyebab jatuhnya pesawat.
- Peristiwa ini menyoroti risiko aktivitas terjun payung rekreasi, terutama di tengah cuaca ekstrem yang melanda Eropa saat ini.

Sebuah kecelakaan pesawat terjun payung di kota Tomblaine, Prancis timur, pada Minggu (28/6) menewaskan seluruh 11 orang di dalamnya, menjadikannya insiden penerbangan umum paling mematikan dalam sejarah negara tersebut. Korban terdiri dari lima instruktur, lima siswa yang merupakan perawat, dan seorang pilot.
Menurut prefek departemen Meurthe-et-Moselle, Yves Seguy, pesawat jenis Pilatus PC-6 buatan Jerman itu jatuh di area berumput dekat landasan pacu aerodrome Nancy-Essey, tak jauh dari pemukiman warga dan dua jalan raya. Wali Kota Nancy, Mathieu Klein, menyatakan bahwa para korban "tewas di depan mata orang-orang terkasih mereka yang bersiap merekam lompatan tandem".
Ketua dewan keperawatan Meurthe-et-Moselle, Thierry Pechey, mengungkapkan bahwa para perawat itu adalah rekan kerja yang memutuskan melakukan lompatan pertama untuk "melepas penat" di tengah gelombang panas yang melanda kawasan tersebut. "Mereka adalah kolega yang memutuskan melakukan lompatan terjun payung pertama, tidak diragukan lagi untuk bersantai, karena kami sedang melalui masa sulit dengan gelombang panas," ujarnya.
Kecelakaan ini menjadi sorotan karena tingkat keparahannya yang langka. Menteri Transportasi Philippe Tabarot mengatakan bahwa "belum ada kecelakaan aeronautika terkait lompatan parasut seberat ini selama sekitar 30 tahun". Badan keselamatan penerbangan Prancis (BEA) mencatat insiden ini sebagai "kecelakaan penerbangan umum paling serius dalam hal jumlah korban jiwa", di luar sektor militer dan komersial.
Wali Kota Tomblaine, Herve Feron, menyebut pesawat jatuh "dengan cara yang sama sekali tidak dapat dijelaskan... saat pendakian" dan menggambarkannya jatuh "lurus ke bawah". Pesawat tersebut disewa khusus untuk akhir pekan terjun payung, seperti yang biasa dilakukan. Tim dukungan medis dan psikologis telah dikerahkan untuk merawat keluarga korban dan saksi mata.
Bagi Indonesia, kecelakaan ini menjadi pengingat akan pentingnya standar keselamatan penerbangan umum, terutama untuk kegiatan rekreasi seperti terjun payung yang mulai populer di beberapa kota besar. Meskipun insiden serupa jarang terjadi di Tanah Air, regulator penerbangan sipil perlu memastikan prosedur operasional dan perawatan pesawat sewaan berjalan ketat, mengingat cuaca ekstrem juga kerap melanda wilayah tropis.
Penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan. Deputi jaksa publik Nancy, Amaury Lacote, mengonfirmasi bahwa investigasi teknis telah dimulai. Polisi setempat mengimbau masyarakat untuk menghindari area sekitar bandara guna memudahkan akses darurat. Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah faktor teknis, human error, atau kondisi cuaca menjadi pemicu tragedi ini? Jawabannya akan menentukan langkah pencegahan di masa depan, baik di Prancis maupun negara lain yang memiliki aktivitas serupa.



