IHSG Ambruk 2,73% dalam Sehari: Aksi Jual Saham Teknologi Global Menjadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 2,73% pada sesi pertama perdagangan Jumat (26/6/2026), menyentuh level 5.835,11 setelah sempat menguat di awal.
- Pelemahan dipicu aksi jual besar-besaran di sektor kecerdasan buatan dan teknologi di bursa global, yang merembet ke Asia dan Indonesia.
- Sentimen risk-off diperparah kekhawatiran investor asing terhadap potensi downgrade MSCI pada November 2026 serta sikap wait and see menjelang keputusan suku bunga The Fed.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan hampir tiga persen nilainya dalam sekejap pada perdagangan sesi pertama Jumat (26/6/2026), membalikkan penguatan awal menjadi koreksi tajam yang mengejutkan pelaku pasar. Indeks acuan bursa Tanah Air itu ditutup sementara di level 5.835,11, turun 164 poin atau 2,73 persen dari posisi pembukaan, setelah sempat menyentuh level tertinggi 6.045 dan terendah 5.830 sepanjang sesi.
Tekanan jual yang mendominasi mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) kali ini bukan berasal dari faktor domestik semata. Analis Doo Financial Sekuritas, Lukman Leong, menilai bahwa koreksi IHSG merupakan imbas dari sentimen risiko global yang memicu aksi jual besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) dan saham teknologi. "Penurunan ini mengikuti sentimen risk off global akibat sell off AI dan tech stock," ujarnya. Gelombang jual tersebut tidak hanya melanda Indonesia, tetapi juga menekan bursa utama Asia dan indeks futures Amerika Serikat.
Fenomena ini mengingatkan pada pola yang terjadi awal tahun 2025, ketika kekhawatiran valuasi saham teknologi memicu koreksi lintas pasar. Namun, kali ini ada faktor tambahan yang membuat investor asing semakin berhati-hati: pengumuman MSCI yang masih menyisakan risiko downgrade pada November mendatang. Menurut Lukman, ketidakpastian itu membuat investor, terutama asing, ragu untuk kembali masuk ke pasar Indonesia dalam waktu dekat.
Analis MNC Sekuritas, Herditya, menambahkan bahwa koreksi IHSG sejalan dengan pergerakan mayoritas bursa regional Asia yang juga terkoreksi akibat aksi jual saham teknologi. "Secara teknikal, pergerakan IHSG masih berada di fase downtrend," katanya. Ia mengingatkan bahwa investor cenderung wait and see menjelang keputusan suku bunga The Fed yang diperkirakan masih higher for longer, sehingga menekan minat terhadap aset berisiko di negara berkembang seperti Indonesia.
Di sisi lain, tekanan tambahan datang dari sektor komoditas. Harga minyak mentah dan emas yang terkoreksi turut mempengaruhi pergerakan emiten-emiten yang berkorelasi dengan komoditas di BEI. Bagi investor Indonesia, kondisi ini menjadi sinyal untuk mencermati portofolio, terutama saham-saham yang rentan terhadap gejolak global dan perubahan kebijakan moneter AS. Pertanyaan besarnya kini: akankah IHSG mampu bangkit kembali pada sesi kedua, atau justru melanjutkan tren penurunan menuju level support berikutnya?



