Pemerintah Siagakan Rp100 Triliun untuk Bank BUMN: Likuiditas Siap Dikirim Jika Kredit Melonjak
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Keuangan menyediakan dana siaga Rp100 triliun dari Saldo Anggaran Lebih untuk ditempatkan ke bank Himbara guna menjaga likuiditas penyaluran kredit.
- Dari total SAL Rp400 triliun yang ada di BI, Rp281 triliun akan dikembalikan ke perbankan, sementara Rp100 triliun bersifat standby dan siap dikirim Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa jika diperlukan.
- Langkah ini merespons permintaan kredit yang tumbuh 11,5% hingga Mei, dengan proyeksi tetap tinggi hingga akhir tahun, sehingga likuiditas perbankan perlu dijaga.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah menyiagakan dana sebesar Rp100 triliun untuk disuntikkan ke Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) guna memastikan likuiditas perbankan tetap terjaga di tengah lonjakan permintaan kredit. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung mengungkapkan bahwa dana tersebut merupakan bagian dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang saat ini ditempatkan di Bank Indonesia.
Dalam konferensi pers di Gedung DPR/MPR, Senin (29/6/2026), Juda menjelaskan bahwa total SAL yang mencapai lebih dari Rp400 triliun kini berada di BI. Awalnya pemerintah berencana menempatkan seluruh dana tersebut kembali ke perbankan, namun keputusan berubah setelah rapat pembahasan sinergi fiskal-moneter yang dipimpin Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco. Hasilnya, Rp281 triliun akan langsung dikembalikan ke perbankan, sementara Rp100 triliun disiagakan sebagai cadangan.
โDi samping itu ada Rp100 triliun sebagai standby, incase diperlukan dan memang perbankan memerlukan likuiditas untuk menyalurkan kredit,โ kata Juda. Jika bank-bank Himbara membutuhkan dana tambahan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan segera mentransfer dana tersebut dari BI ke perbankan.
Kebijakan ini diambil seiring dengan meningkatnya permintaan kredit yang tercatat tumbuh 11,5% hingga Mei 2026. Juda menambahkan bahwa pertumbuhan tersebut diperkirakan tetap tinggi hingga akhir tahun, sehingga likuiditas perbankan harus dijaga agar penyaluran kredit tidak terhambat. โKarena info perbankan, permintaan kredit masih cukup tinggi tetapi likuiditas perlu dijaga agar bank menyalurkan kredit,โ pungkasnya.
Bagi pelaku pasar dan investor Indonesia, langkah ini memberikan sinyal bahwa pemerintah siap bertindak sebagai jaring pengaman likuiditas perbankan. Dengan cadangan dana yang besar, risiko perlambatan kredit akibat kekurangan likuiditas dapat diminimalisir. Namun, keputusan untuk tidak menempatkan seluruh SAL ke perbankan menunjukkan adanya pertimbangan hati-hati terhadap stabilitas moneter dan inflasi.
Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan sangat tergantung pada seberapa cepat permintaan kredit riil di sektor produktif dan konsumsi. Jika pertumbuhan kredit melambat, dana siaga mungkin tidak perlu digunakan. Sebaliknya, jika permintaan terus menguat, suntikan Rp100 triliun bisa menjadi katalis bagi ekspansi usaha dan pemulihan ekonomi. Pertanyaan yang mengemuka: akankah bank Himbara mampu menyalurkan dana tersebut secara tepat sasaran tanpa memicu kredit macet?



