CBN Serap Likuiditas Rp 4,8 Triliun Lewat Lelang OMO Bills: Strategi Ketat Kendalikan Inflasi
Baca dalam 60 detik
- Bank Sentral Nigeria menarik dana sebesar 4,8 triliun naira dari perbankan melalui dua lelang OMO bills untuk menekan kelebihan likuiditas.
- Lelang pertama meraup 2,7 triliun naira dari penawaran 600 miliar naira, menunjukkan permintaan investor yang sangat tinggi.
- Langkah ini menjadi sinyal bagi bank sentral lain, termasuk Indonesia, dalam mengelola likuiditas ketat di tengah tekanan inflasi global.

Bank Sentral Nigeria (CBN) kembali menunjukkan sikap agresif dalam mengendalikan likuiditas perbankan. Dalam dua lelang surat berharga pasar terbuka (OMO bills) pekan lalu, otoritas moneter tersebut berhasil menyerap dana sebesar 4,8 triliun naira—setara dengan Rp 4,8 triliun—dari kelebihan dana yang beredar di sistem keuangan.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi CBN untuk mengurangi kemampuan bank dalam menyalurkan kredit tambahan yang berpotensi memicu inflasi. Pada lelang pertama yang digelar awal pekan, CBN menawarkan OMO bills senilai 600 miliar naira, namun permintaan dari bank dan investor asing justru melonjak hingga 2,7 triliun naira. Tingkat oversubscription yang mencapai 4,5 kali lipat ini mencerminkan tingginya minat pasar terhadap instrumen likuiditas jangka pendek.
Keesokan harinya, CBN kembali menggelar lelang tambahan dengan nilai penawaran 600 miliar naira. Lagi-lagi, permintaan investor melebihi ekspektasi, sehingga total dana yang terserap mencapai 2,1 triliun naira. Dengan demikian, dalam dua hari berturut-turut, CBN berhasil menarik dana sebesar 4,8 triliun naira dari sistem perbankan.
Meskipun CBN gencar melakukan sterilisasi, likuiditas sistem perbankan justru tetap melimpah. Pasar dibuka dengan surplus bersih sebesar 4,40 triliun naira, didukung oleh jatuh tempo OMO bills sebelumnya. Aliran masuk dari obligasi yang jatuh tempo mencapai 600 miliar naira, sehingga membantu meredam dampak penarikan dana besar-besaran. Pada akhir pekan, surplus likuiditas tercatat sebesar 4,10 triliun naira, lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya yang sebesar 3,98 triliun naira.
Kondisi likuiditas yang longgar ini membuat tekanan pendanaan di pasar antarbank relatif rendah, meskipun suku bunga sempat bergerak naik tipis. Suku bunga kebijakan semalam (OPR) tetap bertahan di 22,00%, sementara suku bunga Overnight (O/N) naik 3 basis poin menjadi 22,23% dari sebelumnya 22,20%. Sementara itu, Nigerian Interbank Offered Rate (NIBOR) untuk tenor 1 bulan, 3 bulan, dan 6 bulan masing-masing naik 27, 38, dan 70 basis poin, menjadi 22,74%, 23,19%, dan 23,69%.
Menurut analis dari Cowry Asset Management Limited, langkah CBN ini mencerminkan upaya bank sentral untuk menahan laju inflasi yang masih tinggi. Nigeria, seperti halnya Indonesia, menghadapi tekanan harga akibat kenaikan harga pangan dan energi global. Strategi penyerapan likuiditas agresif seperti ini bisa menjadi referensi bagi Bank Indonesia dalam mengelola ekspektasi inflasi tanpa mengorbankan stabilitas nilai tukar.
Ke depan, efektivitas kebijakan ini akan sangat tergantung pada kemampuan CBN menjaga keseimbangan antara menekan inflasi dan mendorong pertumbuhan kredit. Jika likuiditas terus disedot secara berlebihan, risiko perlambatan ekonomi bisa mengemuka. Pertanyaannya, sejauh mana bank sentral Nigeria—dan juga Indonesia—berani mengambil risiko tersebut demi stabilitas harga jangka panjang?



