Bella Hadid Buka Suara soal Depresi Akut Akibat Penyakit Lyme: 'Seperti Hidup dalam Ketidakpastian'
Baca dalam 60 detik
- Supermodel Bella Hadid mengaku mengalami isolasi parah dan depresi setiap kali gejala penyakit Lyme-nya kambuh, sebuah kondisi yang telah dideritanya sejak 2012.
- Dalam unggahan Instagram, ia menggambarkan siklus frustrasi saat pengobatan yang dianggap berhasil tiba-tiba gagal, memicu kecemasan dan ketidakmampuan merencanakan hari.
- Pernyataan ini menyoroti tantangan kesehatan mental yang jarang dibahas pada penderita penyakit kronis, relevan bagi komunitas pasien di Indonesia yang kerap menghadapi stigma serupa.

Bella Hadid, supermodel berusia 29 tahun, mengungkapkan bahwa ia berjuang melawan isolasi berat dan depresi setiap kali gejala penyakit Lyme yang dideritanya kambuh. Dalam sebuah unggahan panjang di Instagram, ia menulis bahwa kondisi itu membuat segalanya terasa tidak pasti dan menghancurkan harapan yang sempat terbangun.
Sejak didiagnosis pada 2012, Hadid harus hidup dengan penyakit yang ditularkan melalui gigitan kutu ini. Ia mengaku setiap kali muncul kilas balik gejala—nyeri fisik, kelelahan ekstrem, kabut otak, dan kecemasan—ia merasa seperti kembali ke titik nol. "Kamu berjuang, akhirnya punya beberapa hari baik, merasa menemukan protokol yang tepat, lalu kambuh datang dan tiba-tiba tidak ada lagi yang pasti," tulisnya.
Dalam pengakuannya yang jujur, Hadid menggambarkan siklus yang melelahkan: membatalkan rencana, kehilangan kemampuan mengambil keputusan, dan terbangun dengan kecemasan yang sudah mengendap di tubuh sebelum kaki menyentuh lantai. "Rasa sakit fisik sebelum kakimu menyentuh lantai... dan entah bagaimana, kamu harus menemukan kekuatan untuk melewati hari lain dalam tubuh dan pikiran yang benar-benar kelelahan," ungkapnya.
Yang membuat pernyataan Hadid begitu kuat adalah pengakuannya bahwa penyakit kronis sering kali tidak terlihat oleh orang lain. "Kadang terasa seperti, kecuali kamu pernah mengalami ini, atau mencintai seseorang yang mengalaminya, mustahil untuk benar-benar memahami," tulisnya. Hal ini menyentuh isu yang relevan di Indonesia, di mana pasien dengan kondisi kronis sering menghadapi stigma dan kurangnya empati dari lingkungan sekitar.
Meski demikian, Hadid menutup pesannya dengan nada penuh harapan. Ia mengingatkan bahwa penyembuhan tidaklah linear, dan setiap kesulitan menyimpan pelajaran serta kekuatan baru. "Ada cahaya, bahkan jika kamu tidak bisa melihatnya hari ini... Ada harapan," pungkasnya. Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan penyakit kronis bukan hanya soal fisik, tetapi juga mental—sebuah pesan yang universal, termasuk bagi para pejuang penyakit kronis di Indonesia.



