Catherine, Princess of Wales, Taklukkan Tiga Puncak Inggris dalam 24 Jam: Simbol Hidup Pasca-Kanker
Baca dalam 60 detik
- Catherine, Princess of Wales, menyelesaikan National Three Peaks Challenge sendirian dalam 24 jam untuk menggalang dana dan kesadaran akan perawatan holistik kanker.
- Aksi ini menyoroti pentingnya pendekatan menyeluruh dalam pemulihan kanker, tidak hanya medis tetapi juga psikologis dan spiritual.
- Dana yang terkumpul akan mendukung The Royal Marsden Cancer Charity dalam riset dan akses terapi komplementer bagi pasien di seluruh Inggris.

Seorang anggota kerajaan Inggris yang baru saja dinyatakan remisi kanker menuntaskan pendakian tiga gunung tertinggi di Inggris, Skotlandia, dan Wales dalam waktu kurang dari 24 jam. Catherine, Princess of Wales, menuntaskan National Three Peaks Challenge pada Minggu (28/6/2026) untuk menunjukkan bahwa kehidupan setelah diagnosis kanker bukanlah akhir, melainkan awal dari perjuangan baru yang membutuhkan ketangguhan fisik dan mental.
Istri Pangeran William itu mendaki Ben Nevis (1.345 meter), Scafell Pike (978 meter), dan Snowdon (1.085 meter) secara solo tanpa ditemani pendamping selain tim penyelamat gunung yang mengawal dari kejauhan. Total jarak tempuh mencapai 23 mil (37 kilometer) dengan akumulasi tanjakan setinggi 3.064 meter, belum termasuk perjalanan darat sejauh 462 mil (744 kilometer) antar lokasi yang dikemudikan oleh stafnya.
Di puncak Snowdon, Catherine disambut oleh suaminya, Pangeran William, ketiga anak mereka—Pangeran George (12), Putri Charlotte (11), dan Pangeran Louis (8)—serta orang tuanya, Carole dan Michael Middleton, dan sang adik, James Middleton. Momen haru itu menjadi penutup dari tantangan fisik yang ia lakukan untuk menggalang dana bagi The Royal Marsden Cancer Charity.
Dalam pernyataan yang diunggah di akun Instagram resmi Prince and Princess of Wales, Catherine menulis bahwa kanker tidak hanya menyerang tubuh, tetapi juga mengubah cara berpikir, merasa, dan menjalani hidup. Ia menekankan pentingnya perawatan holistik yang melengkapi terapi klinis. “Penyembuhan, baik secara pribadi maupun kolektif, bukan hanya tentang memperbaiki apa yang salah. Ini tentang menemukan keseimbangan antara usaha dan penerimaan, antara kendali dan kepercayaan,” tulisnya.
Bagi publik Indonesia, kisah Catherine mengingatkan bahwa kanker masih menjadi momok global. Menurut data Globocan 2022, Indonesia mencatat lebih dari 400.000 kasus baru kanker setiap tahun, dengan akses ke perawatan holistik yang masih terbatas. Langkah Catherine bisa menjadi inspirasi bagi para penyintas kanker di Tanah Air untuk tidak menyerah pada kondisi fisik, sekaligus mendorong pemerintah dan lembaga swadaya untuk lebih memperhatikan layanan psikososial dan rehabilitatif bagi pasien kanker.
“Setiap tahun, ratusan ribu orang di negeri ini mendengar kata-kata yang tidak ingin didengar siapa pun. Yang mengikuti adalah jalan yang menguji setiap bagian dari diri kita: fisik, emosional, psikologis, dan spiritual.” — Catherine, Princess of Wales
Tantangan ini juga menjadi ajang promosi perawatan holistik di The Royal Marsden, rumah sakit kanker tempat Catherine dan William menjadi pelindung bersama sejak Januari 2025. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk riset dan perluasan akses terapi komplementer seperti konseling, akupunktur, dan dukungan gizi yang berjalan beriringan dengan pengobatan konvensional. Catherine berharap pendekatan ini bisa direplikasi di seluruh Inggris, sehingga tidak ada pasien yang merasa sendirian dalam perjuangan melawan kanker.
Ke depan, tantangan Catherine membuka pertanyaan: akankah kesadaran akan perawatan holistik kanker semakin meluas, terutama di negara berkembang seperti Indonesia? Atau justru akan menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan agar setiap pasien mendapatkan dukungan yang utuh, tidak hanya secara medis tetapi juga secara mental dan sosial?



