Kejutan di Trent Bridge: Inggris Pukul Balik Selandia Baru di Hari Pertama
Baca dalam 60 detik
- Pasangan pembuka Selandia Baru, Tom Latham dan Devon Conway, mencetak rekor kemitraan 317 lari sebelum Inggris membalas dengan dua wicket di penghujung hari.
- Kapten Ben Stokes kembali memimpin setelah absen karena kontroversi, namun timnya harus membayar mahal atas peluang yang terlewatkan di lapangan.
- Dengan kondisi lapangan yang masih bersahabat, Inggris masih berpeluang mengejar ketertinggalan, mengingat rekor mereka membalikkan defisit besar dalam empat tahun terakhir.

Dua wicket di penghujung hari pertama menjadi penyelamat bagi Inggris dalam pertandingan penentu melawan Selandia Baru di Trent Bridge, Nottingham. Setelah seharian dihajar oleh rekor kemitraan pembuka 317 lari antara Tom Latham dan Devon Conway, Inggris akhirnya bisa bernapas lega setelah Gus Atkinson dan Jofra Archer menyingkirkan Rachin Ravindra dan Henry Nicholls pada dua bola terakhir, menutup hari dengan skor 361-4.
Kembalinya Ben Stokes sebagai kapten setelah absen pada Tes kedua karena kontroversi klub malam langsung diuji. Ia kalah undian penting di tengah suhu ekstrem, dan Selandia Baru memanfaatkan lapangan yang datar untuk berpesta lari. Latham (151) dan Conway (157) tampil gemilang, memecahkan rekor kemitraan tertinggi Selandia Baru untuk wicket mana pun melawan Inggris yang bertahan sejak 1926. Mereka hanya terpaut 21 lari dari rekor kemitraan pembuka tertinggi oleh tim mana pun melawan Inggris.
Namun, Inggris bukannya tanpa cela. Peluang emas terlewatkan ketika Conway pada skor 71 hampir terkena lbw dari Shoaib Bashir, namun Inggris tidak mengajukan banding. Lebih parah lagi, Latham yang pada skor 129 memukul bola ke sisi leg dan kiper Jamie Smith gagal menangkapnya. Stokes akhirnya memecah kemitraan dengan menjebak Latham di belakang, dan Root menghabisi Conway. Dua wicket di akhir sesi menjadi bonus besar yang disambut gegap gempita oleh tim tuan rumah.
Pertandingan ini menjadi krusial bagi Inggris yang hanya meraih dua kemenangan dalam sembilan Tes terakhir. Stokes sendiri mengakui timnya berada di bawah tekanan tertinggi selama masa kepemimpinannya. Kekalahan atau hasil imbang bisa memicu sorotan tajam terhadap posisi kepelatihan. Di sisi lain, Selandia Baru datang dengan tim yang lemah: Kyle Jamieson diistirahatkan, Matt Henry dan Glenn Phillips cedera. Namun, kemenangan undian dan kondisi lapangan yang mendukung membuat mereka mendominasi.
Bagi penggemar kriket Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan menarik karena menunjukkan bagaimana tekanan mental dan ketepatan strategi bisa mengubah jalannya laga. Inggris, yang terkenal dengan gaya agresif "Bazball" sejak 2022, kini diuji apakah semangat itu masih menyala. Sejarah mencatat, tiga kali dalam empat tahun terakhir Inggris memenangi Tes setelah lawan mencetak lebih dari 500 lari di babak pertama, termasuk di lapangan yang sama melawan Selandia Baru pada 2022.
Hari kedua akan menjadi penentu. Inggris akan kembali dengan bola yang baru berusia empat overs, menghadapi nightwatchman Will O'Rourke dan Daryl Mitchell. Mampukah mereka membatasi keunggulan Selandia Baru, atau justru malah tenggelam dalam tekanan? Pertandingan ini belum usai.



