Protes Hadiah Wimbledon: Para Bintang Tenis Pecah, Ada yang Pilih Tunduk
Baca dalam 60 detik
- Aryna Sabalenka memimpin aksi pembatasan wawancara di Wimbledon sebagai protes alokasi hadiah yang dinilai tak sebanding dengan pendapatan turnamen.
- Tak semua pemain solid: Alex de Minaur dan Alexander Zverev memilih mundur karena menilai kenaikan hadiah Wimbledon sudah cukup signifikan.
- Tuntutan pemain adalah peningkatan persentase hadiah dari 15% menjadi 22% pendapatan Grand Slam pada 2030, plus jaminan pensiun dan cuti melahirkan.

Aryna Sabalenka, petenis peringkat dua dunia, mengingatkan rekan-rekannya agar tidak sampai memboikot kewajiban media di Grand Slam, meski aksi protes terhadap pembagian hadiah masih terus bergulir. Sabalenka menjadi salah satu penggerak utama aksi pembatasan wawancara di Wimbledon tahun ini, yang merupakan kelanjutan dari gerakan serupa di Prancis Terbuka bulan lalu.
Sejumlah bintang tenis, termasuk Jannik Sinner dan Coco Gauff, menuntut agar turnamen Grand Slam mengalokasikan porsi pendapatan yang lebih besar untuk hadiah uang, serta meningkatkan kontribusi pada kesejahteraan pemain seperti dana pensiun dan cuti melahirkan. Wimbledon sendiri telah menaikkan total hadiah sebesar 20% menjadi £64,2 juta—kenaikan tahunan terbesar dalam sejarah turnamen. Namun, para pemain menilai persentase pendapatan yang dialokasikan untuk hadiah masih lebih rendah dibandingkan satu dekade lalu.
Namun, solidaritas di antara pemain mulai retak. Alex de Minaur, yang ikut serta dalam protes di Prancis Terbuka, memutuskan tidak bergabung di Wimbledon. Ia menilai langkah All England Club sudah cukup besar dan patut diapresiasi. Alexander Zverev, yang baru saja memenangkan gelar Grand Slam pertamanya di Paris, juga memilih mundur. Menurutnya, membatasi waktu wawancara tidak tepat sasaran karena media tidak memiliki kuasa atas kebijakan hadiah. Zverev tetap berharap ada perubahan, tetapi ia memilih memberikan waktu 30 menit untuk media, bukan 15 menit seperti yang didorong kelompok protes.
Sally Bolton, CEO All England Club, menyatakan "terkejut dan kecewa" dengan aksi protes ini. Ia menegaskan bahwa kenaikan hadiah sudah sangat adil, belum lagi investasi besar untuk fasilitas pemain di klub. Sementara itu, Novak Djokovic, yang tidak ikut protes, justru meluangkan waktu lebih banyak untuk media—konferensi pers 15 menit ditambah wawancara dengan 18 stasiun televisi.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, persoalan ini mungkin terasa jauh. Namun, perjuangan pemain untuk mendapatkan bagian pendapatan yang lebih besar dari turnamen besar bisa berdampak pada ekosistem tenis global, termasuk turnamen level bawah yang kerap menjadi batu loncatan petenis Asia. Jika Grand Slam meningkatkan hadiah dan kesejahteraan, tekanan pada turnamen lain untuk mengikuti jejak serupa akan semakin besar.
Pertanyaan yang tersisa: akankah Wimbledon dan Grand Slam lainnya menaikkan persentase hadiah sesuai tuntutan, atau justru memperlebar jurang antara pemain papan atas dan pengelola turnamen? Satu hal yang pasti, aksi protes ini belum akan mereda dalam waktu dekat.



