Swiatek Bungkam Ekspektasi Jelang Pertahanan Gelar Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Iga Swiatek mengakui sulitnya mempertahankan gelar Wimbledon, dengan sembilan juara berbeda dalam sepuluh edisi terakhir.
- Musim inkonsisten dan hasil buruk di lapangan rumput membuat petenis Polandia itu memilih realistis.
- Petenis peringkat tiga dunia itu akan memulai perjuangan melawan Taylor Townsend pada Selasa.

Iga Swiatek, juara bertahan Wimbledon, memilih untuk tidak membebani dirinya dengan target muluk jelang turnamen Grand Slam yang dimulai 29 Juni di All England Club. Petenis Polandia berusia 25 tahun itu menyadari sejarah panjang kegagalan juara bertahan di lapangan rumput London, di mana dalam sepuluh edisi terakhir hanya satu pemain yang mampu mempertahankan gelar.
"Saya merasa memulai dari posisi yang benar-benar berbeda. Saya benar-benar menjaga ekspektasi tetap rendah," ujar Swiatek kepada wartawan, Sabtu (27/6). Meskipun semua orang membicarakan statusnya sebagai juara bertahan, ia menegaskan butuh penyesuaian dan tidak akan berjalan mulus hanya karena kemenangan tahun lalu.
Fakta bahwa Wimbledon kerap melahirkan juara baru bukanlah rahasia. Sembilan pemain berbeda dalam satu dekade terakhir—dari Serena Williams hingga Elena Rybakina—menunjukkan betapa sulitnya konsistensi di permukaan rumput. Swiatek, yang tahun lalu menghancurkan Amanda Anisimova 6-0, 6-0 di final, mengaku tidak tahu persis mengapa fenomena itu terjadi. "Ada pemain yang sudah memenangkan banyak Grand Slam, tapi tetap sulit mengulangnya di sini. Saya tidak punya jawaban," katanya.
Musim 2026 Swiatek diwarnai pasang surut. Ia hanya mencapai perempat final di Australia Open, Qatar, dan Indian Wells, lalu tersingkir dini di Miami oleh Magda Linette. Kekalahan itu memicu pergantian pelatih: Wim Fissette digantikan Francisco Roig. Pukulan terberat datang di Roland Garros, tempat ia empat kali juara, namun tersingkir di babak keempat oleh Marta Kostyuk. Persiapan di lapangan rumput juga kurang meyakinkan—kalah dari Emma Navarro di Bad Homburg sebagai unggulan teratas.
Bagi penggemar tenis Indonesia, perjalanan Swiatek menarik dicermati. Meski bukan pemain Asia, gaya bermainnya yang agresif dan konsisten di permukaan keras sering menjadi referensi bagi petenis muda Tanah Air. Namun, inkonsistensinya di rumput mengingatkan bahwa transisi antarpermukaan tetap menjadi tantangan universal. Pelatih nasional tenis Indonesia, misalnya, kerap menekankan pentingnya adaptasi permukaan dalam program latihan.
Swiatek mengakui bahwa menjadi juara bertahan membawa tekanan ekstra. "Turnamen ini menciptakan tantangan berbeda saat kembali sebagai juara bertahan karena semua hal yang terjadi di sekitarnya," katanya. Ia berharap bisa membangun momentum dari pertandingan ke pertandingan, seperti yang ia lakukan tahun lalu. "Awal turnamen, Anda tidak tahu level Anda. Anda harus mengetahuinya di pertandingan awal. Saya bisa berkembang dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya."
Dengan undian yang ketat, Swiatek akan memulai perjuangan melawan petenis Amerika Serikat, Taylor Townsend, pada Selasa. Pertanyaan besarnya: bisakah ia mematahkan kutukan juara bertahan Wimbledon? Atau sejarah akan kembali berulang? Hanya pertandingan yang akan menjawab.



