Ashwin Pastikan Pemain India Tak Akan Bermain di The Hundred: Ekonomi IPL Jadi Penghalang
Baca dalam 60 detik
- Ravichandran Ashwin menegaskan pemain kriket India tak akan merumput di The Hundred atau liga franchise global lainnya dalam waktu dekat, karena aturan BCCI dan dominasi ekonomi IPL.
- Investasi pemilik IPL ke empat tim The Hundred sempat memicu harapan, namun Ashwin menyebut model bisnis IPL terlalu kuat untuk membiarkan pemainnya pindah liga.
- Di tengah isu tersebut, bakat muda Vaibhav Sooryavanshi (15 tahun) mencuri perhatian dengan rekor fastest 50 di List A, dan Ashwin mengingatkannya untuk tetap menikmati permainan.

Legenda kriket India, Ravichandran Ashwin, dengan tegas menyatakan bahwa pemain India tidak akan tampil di The Hundred atau liga franchise internasional lainnya dalam waktu dekat. Pernyataan ini memupus harapan yang sempat muncul setelah empat tim The Hundred diakuisisi oleh investor yang juga memiliki tim di Indian Premier League (IPL).
Ashwin, yang pensiun dari kriket internasional pada 2024 dan IPL setahun kemudian, kini malang melintang di liga franchise global. Ia bergabung dengan San Francisco Unicorns di Major League Cricket Amerika Serikat, setelah sebelumnya sempat direkrut Sydney Thunder di Big Bash League Australia namun harus mundur karena cedera lutut. Pengalamannya di berbagai liga membuatnya paham betul dinamika pasar pemain kriket India.
Menurut Ashwin, aturan Board of Control for Cricket in India (BCCI) yang melarang pemain pria aktif bermain di liga T20 lain adalah tembok utama. Namun, lebih dari sekadar regulasi, faktor ekonomi menjadi alasan paling mendasar. "Apakah Anda setuju atau tidak, model ekonomi sangat berarti bagi olahraga ini, dan IPL berada di ambang valuasi yang mungkin melampaui liga-liga lain," ujar Ashwin dalam podcast Stumped BBC. Ia menambahkan bahwa IPL mampu mempertahankan kualitas pemain lokal karena nilai pasar mereka yang sangat tinggi di India.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pelajaran berharga tentang bagaimana dominasi ekonomi sebuah liga domestik dapat membatasi mobilitas pemain. Di tengah upaya pengembangan kriket Tanah Air, model IPL yang mengikat pemain bintang justru bisa menjadi hambatan jika Indonesia ingin melahirkan pemain yang bermain di berbagai liga global. Namun, di sisi lain, hal ini juga menunjukkan betapa besarnya potensi pasar kriket di negara berpenduduk padat seperti India.
Di luar isu regulasi, Ashwin juga menyoroti fenomena Vaibhav Sooryavanshi, remaja 15 tahun yang memecahkan rekor fastest 50 di List A (11 bola) saat membela India A melawan Sri Lanka A. Sooryavanshi, yang sudah debut IPL pada usia 14 tahun dan menjadi top run-scorer musim ini, dinilai Ashwin sebagai bakat spesial. "Yang menonjol bukan hanya cara dia memukul, tapi juga bagaimana dia mampu melakukan penyesuaian halus terhadap bowler senior yang menyerangnya," puji Ashwin.
Meski demikian, Ashwin mengingatkan agar Sooryavanshi tetap menikmati permainan. "Dia anak 15 tahun yang seharusnya bersenang-senang, seperti bermain di gang kampung halamannya. Tekanan akan datang dengan sendirinya ketika kriket berubah menjadi pekerjaan," katanya. Sooryavanshi dijadwalkan menjalani debut internasional dalam seri T20 melawan Irlandia dan Inggris mulai Jumat ini di Belfast.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah BCCI akan melonggarkan aturan di tengah tekanan globalisasi kriket, atau justru semakin memperkuat dominasi IPL sebagai satu-satunya liga yang layak bagi pemain India. Sementara itu, para penggemar kriket di Indonesia dan Asia Tenggara hanya bisa menanti apakah suatu saat akan ada pemain India yang berlaga di liga-liga lain, ataukah mimpi itu akan tetap menjadi angan-angan.



