Olahraga Wanita Kian Menggurita: Nielsen Catat Lonjakan Penonton dan Investasi Iklan
Baca dalam 60 detik
- Minat terhadap olahraga wanita di AS mencapai 52,8 persen populasi, dengan total 122,5 juta orang.
- Belanja iklan pada olahraga wanita melonjak 120 persen sejak 2022, menandakan pergeseran strategi pemasaran global.
- Pertumbuhan penonton wanita di liga pria seperti NBA dan NHL mengindikasikan perubahan demografi penggemar olahraga secara luas.

Laporan terbaru Nielsen mengungkapkan bahwa olahraga wanita di Amerika Serikat mencatatkan 28,6 miliar menit tayangan pada paruh pertama 2026, naik 18 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Angka ini menjadi bukti bahwa daya tarik kompetisi wanita tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan kekuatan utama dalam industri olahraga global.
Fenomena ini bukan kebetulan. Sepanjang 2025, liga dan turnamen wanita baru bermunculan, diiringi peningkatan audiens televisi serta dampak iklan yang semakin besar. Nielsen mencatat 122,5 juta orang Amerika—atau 52,8 persen dari total populasi—kini menyatakan ketertarikan pada olahraga wanita. Angka ini mencerminkan pergeseran budaya yang signifikan, di mana akses pertandingan, narasi atlet, dan investasi merek berpadu mengubah lanskap ekonomi olahraga.
Dari sisi komersial, belanja iklan pada olahraga wanita melonjak 120 persen sejak 2022. Survei Nielsen juga menemukan 52 persen konsumen setuju bahwa merek dan sponsor seharusnya meningkatkan investasi di area ini. Charlene Polite Corley, Vice President Inclusive Insights Nielsen, menegaskan bahwa kebangkitan ini bukan tren sesaat, melainkan realignment budaya yang mengubah energi dan ekonomi olahraga global.
Liga basket wanita Amerika (WNBA) menjadi contoh nyata. Musim 2026, yang menyambut tim Kanada pertamanya, mencatat 3,8 miliar menit tayangan hingga jeda All-Star. Nilai sponsor liga ini pun melonjak 71 persen. Sementara itu, pertumbuhan penonton wanita juga terlihat di liga pria: NBA mengalami kenaikan 55 persen dalam jumlah penonton wanita antara 2024 dan 2026, disusul NHL dengan 44 persen.
Bagi Indonesia, tren ini membuka peluang strategis. Dengan populasi muda yang besar dan penetrasi internet yang terus meningkat, pasar olahraga wanita di dalam negeri berpotensi tumbuh serupa. Federasi olahraga dan penyelenggara liga lokal dapat belajar dari model bisnis yang mendorong keterlibatan penonton dan sponsor. Selain itu, meningkatnya minat wanita terhadap olahraga—baik sebagai penonton maupun atlet—bisa menjadi pendorong kesetaraan gender di bidang olahraga, sejalan dengan program pemerintah yang tengah menggalakkan partisipasi perempuan.
Namun, tantangan tetap ada. Infrastruktur, liputan media, dan dukungan sponsor masih perlu diperkuat. Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu menangkap momentum ini dan menciptakan ekosistem olahraga wanita yang berkelanjutan? Jawabannya bergantung pada kolaborasi antara pemangku kebijakan, swasta, dan publik untuk bersama-sama membangun masa depan yang lebih inklusif.



