FIA Hapus Batasan Masa Jabatan Presiden, Ben Sulayem Bisa Pimpin Seumur Hidup
Baca dalam 60 detik
- FIA menyetujui penghapusan batas tiga periode kepresidenan, memungkinkan Mohammed Ben Sulayem memimpin lebih dari 12 tahun.
- Langkah ini memicu kritik karena dianggap memperlemah tata kelola dan demokrasi internal, terutama setelah tiga kandidat dilarang maju pada pemilu 2024.
- Ben Sulayem disebut berencana menghapus juga batas usia 70 tahun, membuka jalan menuju kepemimpinan seumur hidup.

Federasi Otomotif Internasional (FIA) resmi menghapus batasan masa jabatan presiden yang sebelumnya dibatasi maksimal tiga periode atau 12 tahun. Keputusan yang diambil dalam sidang umum di Makau, Kamis (12/12/2024), disetujui oleh lebih dari 90 persen anggota klub FIA—tepatnya 90,71 persen—menurut sumber BBC Sport. Langkah ini membuka jalan bagi presiden petahana Mohammed Ben Sulayem untuk terus memimpin tanpa batas waktu.
Ben Sulayem, yang menjabat sejak Desember 2021, disebut-sebut berencana melanjutkan kepemimpinannya seumur hidup. Sumber internal mengungkapkan bahwa ia juga akan mengupayakan penghapusan batas usia 70 tahun bagi calon presiden. Saat ini aturan tersebut masih berlaku, namun rencana untuk menghapusnya sudah dalam tahap pembahasan. FIA belum memberikan tanggapan resmi terkait isu ini.
Penghapusan batasan ini menuai kritik tajam dari berbagai pihak. Robert Reid, mantan wakil presiden FIA bidang olahraga yang mengundurkan diri tahun lalu karena alasan “penurunan standar”, menilai langkah ini mengubah cara otoritas ditantang, diperbarui, dan diwariskan. Dalam unggahan LinkedIn-nya, Reid menegaskan bahwa batasan masa jabatan bukanlah jaminan sempurna, tetapi menciptakan titik di mana pembaruan harus terjadi. “Mereka mengingatkan institusi bahwa jabatan itu sementara, legitimasi harus disegarkan, dan tidak ada individu yang boleh menjadi sangat diperlukan secara struktural,” tulisnya.
Kekhawatiran juga muncul terkait aturan baru yang memperketat pencalonan presiden. Kandidat kini harus menunjukkan pengalaman yang cukup di lingkungan FIA, dan batas waktu penyerahan daftar wakil presiden diperpanjang lebih dari dua kali lipat, dari 49 hari menjadi 100 hari sebelum pemilu. Reid memperingatkan bahwa persyaratan yang tidak jelas dapat menjadi alat untuk menyingkirkan kandidat yang dianggap tidak nyaman. “Penilaian tentang apa yang cukup tetap berada dalam struktur FIA sendiri. Di organisasi yang proses pemilunya sudah dipertanyakan, ini bukan sekadar masalah teknis,” ujarnya.
Keputusan ini diambil di tengah kontroversi tata kelola FIA. Pada pemilu presiden tahun lalu, tiga kandidat dilarang maju karena aturan yang mewajibkan calon menyerahkan daftar wakil presiden dari enam kawasan global. Daftar yang dipublikasikan hanya memuat satu calon dari Amerika Selatan, yaitu Fabiana Ecclestone—istri mantan bos F1 Bernie Ecclestone—yang sudah menjadi bagian dari tim Ben Sulayem. Akibatnya, tidak ada kandidat lain yang bisa mencalonkan diri. Salah satu calon yang gagal, Laura Villars, kini menggugat FIA di pengadilan Prancis.
FIA sebelumnya membela penghapusan batasan ini dengan alasan ingin menyelaraskan aturan masa jabatan di semua badan FIA, seperti yang sudah berlaku di dewan dunia dan senat. Juru bicara FIA bahkan membandingkan dengan NFL di AS, di mana Roger Goodell telah menjadi komisaris sejak 2006 dan dianggap berhasil mentransformasi olahraga tersebut. Namun, perbandingan itu dinilai tidak tepat oleh para kritikus. Mereka menunjuk pada Thomas Bach, presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC), yang pada 2024 menolak kesempatan untuk menjabat lebih dari 12 tahun dengan alasan organisasi membutuhkan perubahan kepemimpinan.
Bagi penggemar Formula 1 di Indonesia, perubahan ini berpotensi memengaruhi arah regulasi teknis dan komersial F1, termasuk kebijakan yang berdampak pada tim-tim besar dan sirkuit. Dengan kepemimpinan yang cenderung monolitik, kekhawatiran akan berkurangnya checks and balances dalam pengambilan keputusan FIA semakin mengemuka. Pertanyaan besarnya: akankah langkah ini memperkuat atau justru menggerus kredibilitas FIA sebagai badan pengatur olahraga balap paling bergengsi di dunia?



