Sinner Hadapi Ujian Fisik dan Mental di Wimbledon: Bisakah Juara Bertahan Bangkit?
Baca dalam 60 detik
- Jannik Sinner memilih jalur persiapan tak lazim dengan melewatkan turnamen pemanasan rumput demi memulihkan kebugaran setelah tersingkir dini di Prancis Terbuka.
- Para pengamat menilai dominasi Sinner di awal musim tetap menjadikannya favorit, namun keraguan muncul soal daya tahan fisiknya dalam format lima set.
- Keputusan Sinner untuk berlatih di lapangan keras dan fokus pada pemulihan mental menjadi kunci menjelang pembelaan gelar di All England Club.

Jannik Sinner akan memulai perjuangan mempertahankan gelar juara Wimbledon di bawah sorotan tajam, setelah kegagalannya di Prancis Terbuka memunculkan tanda tanya besar: sejauh mana tubuh dan pikirannya sanggup bertahan di tengah jadwal padat tenis profesional?
Petenis Italia berusia 24 tahun itu tersingkir di babak kedua Roland Garros dalam kondisi fisik yang tidak prima, memaksanya kembali ke Milan untuk menjalani serangkaian tes medis. Kekalahan tersebut mempertegas kekhawatiran bahwa beban kompetisi yang berat mulai berdampak pada performanya. Alih-alih mengikuti turnamen pemanasan rumput tradisional seperti Queen's Club atau Halle, Sinner memilih pendekatan yang tidak biasa: latihan terkontrol di lapangan keras dan sesi latihan panjang untuk memulihkan ritme serta kebugaran.
"Saya mengambil satu minggu libur dan menghabiskan waktu bersama keluarga serta teman-teman. Itu sangat penting. Setelah itu, kami langsung kembali berlatih karena ada rangkaian besar di depan," ujar Sinner kepada Vogue, merujuk pada Wimbledon dan tur lapangan keras Amerika Serikat. Ia menambahkan bahwa kegagalan di Paris justru memberinya waktu ekstra untuk mempersiapkan diri secara lebih matang. "Kami mencoba memaksimalkan setiap hari. Saya sangat senang dengan kondisi fisik dan mental saya saat ini."
Pelatih kenamaan Patrick Mouratoglou menepis anggapan bahwa kegagalan di Roland Garros akan memengaruhi kepercayaan diri Sinner. "Lihat apa yang ia lakukan sejak Januari. Jumlah kemenangan beruntunnya luar biasa. Menjadi juara bertahan memang tekanan tambahan, tapi saya pikir ia sudah terbiasa," kata Mouratoglou di Instagram. Ia juga menyebut Novak Djokovic dan juara Prancis Terbuka Alexander Zverev sebagai pesaing utama. Namun, tidak semua pihak sepakat. Jeff Greenwald, mantan pemain dan konsultan psikologi olahraga, mengingatkan bahwa keterbatasan fisik bisa menjadi faktor krusial. "Lima set sangat melelahkan. Kelenturan fisik dan kelelahan akan selalu berperan. Keyakinan bahwa Anda bisa bertahan hingga akhir adalah esensial di level tertinggi," ujarnya kepada Reuters.
Gustavo Granitto, pelatih Federasi Tenis Internasional yang tersertifikasi dalam kerangka pola pikir Gazing Red2Blue, mendukung keputusan Sinner untuk melewatkan turnamen pemanasan. "Saya tidak berpikir itu akan membuatnya kurang siap. Sejak Maret, ia menjalani rentetan kemenangan panjang yang mungkin menguras energinya pada momen kritis seperti Roland Garros. Ia akan tiba di Wimbledon dalam kondisi baik dan pulih secara mental. Saya belum mendengar ia mengalami cedera apa pun," jelas Granitto. Ia yakin Sinner akan menemukan ritmenya kembali seiring berjalannya turnamen.
Bagi publik tenis Indonesia, perjalanan Sinner menjadi cerminan bagaimana atlet papan atas mengelola tekanan fisik dan mental di tengah jadwal yang padat. Keputusan untuk memprioritaskan pemulihan di atas ambisi bermain di turnamen pemanasan bisa menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan atlet muda di Tanah Air, di mana keseimbangan antara kompetisi dan istirahat kerap terabaikan. Pertanyaan besarnya: akankah strategi tak lazim ini membuahkan hasil, atau justru membuat Sinner kehilangan sentuhan di lapangan rumput yang membutuhkan adaptasi spesifik? Jawabannya akan terlihat saat ia melangkah ke Centre Court dalam beberapa pekan ke depan.



