Pengamen Bakar Pagar Rumah di Bekasi Usai Tak Dapat Uang, Pelaku Ditangkap
Baca dalam 60 detik
- Tiga pengamen membakar pagar rumah warga di Jatiwaringin, Bekasi, diduga karena kesal tidak diberi uang.
- Polsek Pondok Gede telah mengamankan pelaku, namun motif dan kronologi lengkap masih didalami.
- Insiden ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya aksi premanisme di lingkungan permukiman.

Video viral memperlihatkan tiga pengamen membakar pagar rumah di Jatiwaringin, Pondok Gede, Kota Bekasi, diduga sebagai luapan kekesalan karena tidak diberi uang oleh penghuni rumah. Rekaman kamera pengawas yang beredar luas di media sosial menunjukkan aksi nekat tersebut terjadi beberapa waktu lalu, memicu reaksi keras dari warga dan aparat kepolisian.
Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, AKBP Andi M Iqbal, membenarkan bahwa pelaku telah diamankan oleh Polsek Pondok Gede. Namun, ia belum merinci kronologi kejadian maupun motif di balik pembakaran tersebut. "Pelaku sudah diamankan," ujarnya singkat saat dikonfirmasi pada Kamis (25/6).
Dalam rekaman CCTV yang viral, ketiga pengamen tampak berkeliling dari satu rumah ke rumah lain. Mereka kemudian berhenti di depan sebuah rumah bercat putih dengan pagar hitam. Dua orang di antaranya bernyanyi sambil memainkan alat musik, sementara satu orang lainnya mengintip ke dalam rumah. Setelah beberapa saat tanpa respons dari penghuni, salah satu pengamen yang membawa kantong plastik bergerak ke ujung pagar, membungkuk, dan sesaat kemudian api menyala dari fiber glass yang terpasang di pagar tersebut.
Aksi pembakaran ini memicu kekhawatiran di kalangan warga, terutama soal meningkatnya tindakan premanisme di lingkungan permukiman. Pengamat keamanan menilai bahwa insiden ini mencerminkan adanya masalah sosial yang lebih dalam, seperti kemiskinan dan kurangnya penyaluran bantuan sosial yang tepat sasaran. "Tindakan merusak properti karena tidak diberi uang menunjukkan adanya frustrasi yang meluap, namun tetap tidak bisa dibenarkan secara hukum," kata seorang kriminolog dari Universitas Indonesia yang enggan disebut namanya.
Polisi masih mendalami motif para pelaku. Dugaan sementara, mereka bertindak karena kesal tidak mendapat uang setelah bernyanyi. Namun, aparat juga menyelidiki apakah ada faktor lain, seperti pengaruh alkohol atau narkoba. Kasus ini menjadi pengingat bagi warga untuk lebih waspada dan segera melapor jika melihat aktivitas mencurigakan.
Ke depan, perlu ada sinergi antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan tokoh masyarakat untuk mengatasi akar masalah pengamen jalanan yang kerap berujung pada tindakan kriminal. Program pemberdayaan ekonomi dan penegakan hukum yang tegas diharapkan dapat mencegah kejadian serupa terulang kembali.



